Jumat, 04 September 2015

Jawaban DR Zakir Naik mengenai takdir


jawaban DR Zakir Naik mengenai takdir
dalam sebuah forum tanya jawab, seorang perempuan bertanya pada DR Zakir Naik:
"aku terus mendengar bahwa segala sesuatu adlh kehendak Allah. Apapun yg terjadi adlh kehendak Allah. Apapun yg telah terjadi sudah dituliskan. Jadi di manakah kebebasan untuk memilih? Ketika Allah memberitahuku kebebasan untuk memilih, apapun yg kulakukan dikatakan bahwa ini sudah tertulis dan merupakan kehendak Allah. Bahkan untuk Adam dan Hawa, hal yg sama terjadi. Dan dapatkan anda menjelaskan jika segala sesuatu telah dituliskan, maka di manakah kebebasan ku untuk memilih?"

DR Zakir Naik menjawab:
"Saudari mengajukan pertanyaan yg sangat bagus, pertanyaan yg sangat penting bahwa jika segala sesuatu merupakan kehendak Allah maka di manakah kebebasan untuk memilih? Pertanyaan ini tidak hanya ditanyakan oleh non-Muslim bahkan hal ini juga ditanyakan oleh Muslim. Hal ini berkenaan dengan Qadar. Hal ini sudah dijelaskan dalam takdir. Misalnya aku ingin mencuri, dan jika aku melakukannya, siapa yg salah? Allah yg salah. Jika sudah dituliskan dalam takdirku bahwa aku akan membunuh, kemudian aku melakukannya, siapa yg salah? Allah yg salah. Jadi di manakah kehendak bebas kita? Jadi jika ini merupakan kehendak Allah dan sudah dituliskan dalam takdir, maka di manakah kehendak bebasnya?
Jawaban atas pertanyaan ini adalah:
Merupakan kewajiban bagi setiap Muslim untuk beriman pada Qadar. Tapi anda harus mengerti apa makna dari takdir. Misalnya: jika dalam sebuah kelas, ada seratus murid. Dan ketika sang guru mengajar di kelas itu. di akhir tahun, sebelum ujiannya dimulai, sang guru memprediksikan bahwa murid yg ini akan lulus dengan peringkat pertama. Sedangkan murid yg ini akan lulus dengan peringkat menengah. Murid yg ini akan gagal. Guru itu memprediksi. Kenapa? Karena dia tahu bahwa murid yg ini sangat tekun, selalu mengerjakan PR, ikut les. Kalau murid yg biasa-biasa ini akan mendapatkan peringkat menengah. Murid yg itu, dia sering menonton bioskop, tidak mengerjakan PR, sering bolos. Sang guru sudah memprediksi bahwa murid itu akan gagal. Dan ketika ujiannya dilaksanakan, setelah hasilnya keluar, murid yg ini dapat peringkat pertama, murid yg ini dapat peringkat menengah, dan murid yg itu gagal.
Saya bertanya pada anda:
Bisakah murid yg telah gagal itu menyalahkan gurunya, “karena anda telah memprediksi bahwa aku akan gagal, maka aku jadi gagal.”
Siapa yg salah? Murid itu atau gurunya?
Murid itu yg salah.
Guru itu memprediksi.
Siapa yg salah? Murid itu. dia tidak belajar, tidak mengerjakan PR, sering menonton bioskop. Begitu juga Allah SWT telah memberikan kehendak bebas kepada manusia. Allah telah memberitahumu apa yg benar dan salah, tapi pilihannya ada di tangan mu.
Sebagai contoh: jika anda berhenti di persimpangan jalan. Ada 4 jalan – A, B, C, dan D. Anda bisa memilih yg manapun. (misalkan) Anda memilih jalan C. Jadi Allah telah mengetahui sebelunya bahwa ketika anda berhenti di persimpangan jalan, anda akan memilih jalan C. Jadi Allah pun menulis “ketika si fulan berhenti di persimpangan jalan, dia akan memilih jalan C.”
Jadi bukan karena Allah menuliskan dan anda memilih hal itu, melainkan karena anda akan memilihnya maka Allah pun sudah menuliskannya.
Allah punya ilmu ghaib, Dia punya pengetahuan tentang masa depan. Dia telah menuliskannya lebih dulu. Setelah anda memilih jalan C, anda berhenti di persimpangan jalan lainnya. Sebagaimana setelah anda lulus kuliah, anda bisa menjadi engineer, anda bisa menjadi dokter, anda bisa menjadi pebisnis. anda memilih jadi pebisnis. Pilihannya ada di tanganmu. Tapi Allah sudah mengetahui bahwa setelah anda lulus kuliah, maka anda akan memilih jadi pebisnis. Hal ini bukan karena Allah menuliskannya sehingga anda menjadi pebisnis, melainkan karena anda ingin menjadi pebisnis, Allah pun sudah menuliskannya.
Dan apa yg kita mengerti dari sini, bahwa jika Allah mau, Dia sebenarnya bisa mengubahnya. Misalnya, jika kau berada dalam sebuah kelas, dalam ujian matematika. Sang guru memberikan pertanyaan “2+2= ?” dan seiring dia mengawasi para muridnya, murid-muridnya menulis 2+2=5. Sang guru tidak akan mengoreksinya (membetulkannya), karena ini adlh ujian. Karena jika sang guru mengoreksinya, maka anda akan berkata bahwa sang guru tidak adil. Misal sang guru berkata “jangan menulis 5, tulislah 4”, maka murid-murid lainnya akan protes “kenapa anda ikut campur saat sedang ujian?”
Jadi jika Allah mau, Dia bisa saja mengubahnya. Tapi karena Dia telah memberikan mu kehendak bebas, Dia membiarkan mu memilih keputusan mu.
Jadi kehidupan ini adlh ujian untuk akhirat. Seperti yg Allah firmankan dalam surat Al-Mulk 67: 2
“Allah menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yg lebih baik amalnya.”
Jadi kehidupan ini adlh ujian untuk akhirat. Allah memberikan mu dan menunjukkan aturannya pada mu, apa yg baik dan apa yg buruk. Kemudian Dia memberikanmu kehendak bebas. Ini merupakan pilihanmu. Allah tidak ikut campur dalam kehendak bebasmu, meskipun Dia bisa jika Dia mau. Qur’an berfirman: “bahkan tidak sehelai daun pun bisa jatuh kecuali atas seizin Allah.”
Jadi apapun yg terjadi, hal itu karena kehendak Allah, tapi pilihannya ada di tangan mu. Dan berdasarkan hal itu, anda akan diberi pahala atau dihukum.
Semoga itu menjawab pertanyaannya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar