Jumat, 25 September 2015
Belajar dari kopi
Pada Suatu hari Beberapa alumnus di sebuah Universitas terkenal, bertamu ke rumah Seorang Dosen senior, Pertemuan itu terjadi setelah bertahun-tahun mereka lulus. Yang tentunya semua dalam kondisi yang berbeda. Mereka kembali dipertemukan, Setelah mereka semua alumnus tersebut menggapai kesuksesan, kedudukan yang tinggi serta kemapanan ekonomi dan sosial. Setelah saling menyapa dan berbasa basi, masing-masing mereka mulai mengeluhkan pekerjaannya. Jadwal yang begitu padat, tugas yang menumpuk dan banyak beban lainnya yang seringkali membuat mereka stress. Sejenak sang dosen masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, beliau keluar sambil membawa nampan tampak di atasnya sebuah teko besar berisikan kopi dan berbagai jenis cangkir. Ada cangkir-cangkir keramik tiongkok yang mewah. Cangkir-cangkir kristal. Cangkir-cangkir melamin. Dan cangkir-cangkir plastik. Sebagian cangkir tersebut luar biasa indahnya. Ukirannya, warnanya dan harganya yang waahh. Namun ada juga cangkir plastik yang biasanya berada di rumah orang-orang yang amat miskin. Sang dosen berkata, “Silahkan.. masing-masing menuangkan kopinya sendiri”. Setelah setiap mahasiswa memegang cangkirnya, sang dosen berkata, “Tidakkah kalian perhatikan bahwa hanya cangkir-cangkir mewah saja yang kalian pilih? Kalian enggan mengambil cangkir-cangkir yang biasa? Manusiawi sebenarnya, saat masing-masing dari kalian berusaha mendapatkan yang paling istimewa. Namun seringkali itulah yang membuat kalian menjadi gelisah dan stress. Sejatinya yang kalian butuhkan adalah kopi, bukan cangkirnya. Akan tetapi kalian tergiur dengan cangkir-cangkir yang mewah. Terus perhatikanlah, setelah masing-masing kalian memegang cangkir tersebut, kalian akan terus berusaha mencermati cangkir yang dipegang orang lain!
Sang Dosen menambahkan, Andaikan kehidupan adalah kopi, maka pekerjaan, harta dan kedudukan sosial adalah cangkir-cangkirnya.Jadi, hal-hal itu hanyalah perkakas yang membungkus kehidupan. Adapun kehidupan (kopi) itu sendiri, ya tetap itu-itu saja, tidak berubah. Saat konsentrasi kita tersedot kepada cangkir, maka saat itu pula kita akan kehilangan kesempatan untuk menikmati kopi. Karena itu kunasehatkan pada kalian, jangan terlalu memperhatikan cangkir, akan tetapi nikmatilah kopinya…”. Sejatinya, inilah penyakit yang diderita manusia. Banyak orang yang tidak bersyukur kepada Allah atas apa yang ia miliki, setinggi apapun kesuksesannya. Sebab ia selalu membandingkannya dengan apa yang dimiliki orang lain. Setelah menikah dengan seorang wanita cantik yang berakhlak mulia, ia selalu berfikir bahwa orang lain menikah dengan wanita yang lebih istimewa dari istrinya. Sudah tinggal di rumah sendiri, namun selalu membayangkan bahwa orang lain rumahnya lebih mewah dari rumah sendiri. Ia bukannya menikmati kehidupannya beserta istri dan anak-anaknya. Tapi justru selalu memikirkan apa yang dimiliki orang lain, seraya berkata, “Aku belum punya apa yang mereka punya”.
Rasulullah SAW mengingatkan, "Barang siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya dan memiliki makanan untuk hari itu; seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya". (HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh al-Albani).Terkadang manusia itu aneh, Mereka korbankan kesehatan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Namun Setelah terkumpul, mereka gunakan harta tersebut untuk mengembalikan kesehatannya yang telah hilang! Mereka selalu gelisah memikirkan masa depan, tapi mereka melupakan hari ini. Akibatnya, mereka tidak menikmati hari ini dan tidak pula hidup di masa datang. Mereka senantiasa melihat apa yang dimiliki orang lain, namun tidak pernah melihat apa yang dimilikinya sendiri. Akibatnya, ia tidak bisa meraih apa yang dimiliki orang lain dan tidak pula bisa menikmati milik sendiri. Padahal, Mereka diciptakan untuk satu tujuan, yakni beribadah. Dunia diciptakan untuk mereka gunakan sebagai sarana beribadah. Tetapi malah sebaliknya, justru sarana tersebut pada akhirnya melalaikan mereka dari tujuan utama”.
Maka, mulai saat ini kita nikmati kopi kehidupan tersebut dengan sebaik-baiknya seraya terus bersyukur atas apa yang kita punya, bagaimanapun dan seperti apapun cangkirnya.
Kamis, 10 September 2015
Perbandingan perilaku babi dan ayam. Kenapa babi diharamkan
Babi adalah binatang yang bagi agama Islam diharamkan untuk memakannya. Bagi umat Islam diharamkan memakan daging babi, bangkai, darah dan binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Allah karena hal itu tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an.
Tentunya ada yang bertanya-tanya, mengapa babi diharamkan? Bukankah semua ciptaan Allah itu baik dan ada manfaatnya? Lagipula daging babi rasanya sangat lezat, bahkan ada yang mengatakan daging babi adalah daging paling lezat. Biasanya jawabannya adalah seputar kesehatan. Babi adalah binatang kotor yang pola hidupnya juga kotor, dan hampir semua orang sudah tahu tentang hal itu.
Jawaban-jawaban tentang bahaya kesehatan yang ditimbulkan ketika makan daging babi tentu masih bisa membuat ragu bagi sebagian orang, terlebih dizaman modern dimana proses sterilisasi bisa dilakukan dengan mesin canggih. Hingga ada sebuah dialog yang mempertanyakan hal tersebut.
Seorang pria non muslim asal Prancis yang juga penikmat babi bertanya kepada seorang ulama:
“Kalian (umat Islam) mengatakan bahwa babi haram, karena ia memakan kotoran dan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba-mikroba dan bakteri-bakteri lainnya. Hal itu sekarang ini sudah tidak ada. Karena babi diternak dalam peternakan modern, dengan kebersihan terjamin, proses sterilisasi yang mencukupi. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba lainnya? Ditambah lagi dimasak dengan suhu tinggi sehingga bila masih terdapat cacing pada daging babi dipastikan bisa mati”.
Dalam menjawab pertanyaan yang diajukan orang Prancis ini, seorang ulama dari Arab menjawabnya dengan meminta agar si penanya menyediakan :
3 ekor ayam terdiri dari 2 jantan dan 1 betina
3 ekor babi terdiri dari 2 jantan dan 1 betina
Lalu kemudian, 3 ekor ayam itu dimasukkan dalam 1 ruang kandang. Coba tebak apa yang terjadi? Ayam jantan dan ayam jantan lainnya saling berkelahi dengan jantan memperebutkan si betina untuk dikawini, ayam jantan yang keluar sebagai pemenang berhak mengawini si betina.
Hal semacam itu sering juga kita lihat di kampung-kampung yang penduduknya memelihara ayam. Sering didapati ayam jantan berusaha saling adu kekuatan untuk memperebutkan betina untuk dikawini.
Lalu sang ustadz juga meminta agar 3 ekor babi yang sudah disediakan agar dimasukkan dalam 1 ruang kandang. Dan apakah yang terjadi? Kedua pejantan babi itu malah saling bantu dalam menyetubuhi 1 babi betina, kedua jantan itu saling bantu satu sama lain. Bahkan terkadang, jsantan sesama jantan bersetubuh melalui anusnya. Dan yang lebih mengherankan lagi, ternyata anak babi yang sudah berumur cukup dewasa itu menyetubuhi betina yang ternyata ialah ibu kandungnya sendiri.
Dari sini, ustadz itu menjelaskan bahwa meski babi dianggap steril, tetap saja kelakuannya itu yang akan membawa dampak buruk pada si pemakan.
Sang ustadz mengatakan:
“Karena itulah kalian pemakan daging babi sangat mudah terjangkiti penyakit seks bebas, anak dibawa orang lain tak dikenal, istri dipeluk cium orang lain tapi tidak marah, selingkuh asal suka sama suka sudah merupakan hal biasa, tak jarang diantara kalian melegalkan pernikahan sesama jenis, ini sudah seperti tingkah kaum nabi Luth yang di azab!”.
Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia makan semua makanan di depannya. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Memakan kotoran apa pun di depannya, entah kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya. Ia memakan sampah, busuk-busukan, dan kotoran hewan. Ia adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar dan dalam waktu lama, jika dibiarkan.
Sehingga bagi umat Islam, manusia sebagai makhluk paling sempurna tentu sangat merasa terhina jika harus memakan daging binatang yang kotor jasad dan prilakunya.
Dari segi ilmiah pun diperoleh kenyataan bahwa babi tetap saja tidak steril karena penyakit babi terdapat pada DNA-nya hingga sebersih apapun perawatan dan kandangnya maka tetap saja penyakit babi tetap ada dan tak dapat dihilangkan.
Satu lagi yang perlu diperhatikan bahwa DNA babi sangat mirip sekali dengan DNA manusia. Bahkan seorang penjahat kanibal di Jerman yang tertangkap kemudian ditanya: “Seperti apa rasanya daging manusia? Dia menjawab: Seperti daging babi”.
Hal lain yang perlu diketahui juga bahwa cacing-cacing bahkan telurnya saja tidak akan mati meski daging babi dimasak dengan suhu 100 derajat celcius. Cacing hanya akan mati jika dimasak dengan suhu yang jauh lebih tinggi, namun suhu yang terlalu tinggi akan merusak daging dan malah daging tersebutlah yang berbahaya bagi manusia meski cacing-cacingnya mati.
Dari bentuk anatomi tubuhnya pun sudah ada tanda bahwa hewan yang satu ini bukan untuk dikonsumsi. Babi tidak memiliki ruas leher sehingga membuktikan bahwa binatang ini bukan untuk disembelih seperti ikan.
Lalu buat apa babi diciptakan jika tidak untuk dimakan?
Maka jawabannya adalah: di dalam tubuh babi ada hal yang bisa kita petik pelajarannya dan kemudian kita hindari sebagaimana naluri kita selalu berkata untuk sedapat mungkin menghindarkan diri dari pengaruh virus flu atau bibit penyakit lainnya. Selain itu juga sebagai ujian iman bagi pemeluk agama yang mengharamkannya, apakah akan taat pada aturan tuhan atau malah melanggarnya. Wallahu A’lam Bish-Showab…
Selasa, 08 September 2015
Pandangan pria tentang wanita
Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab? Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi. Dan kamu tau? Di kampus tempat saya seharian disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.
Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas “Tank Top”, noleh ke kiri pemandangan “Pinggul terbuka”, menghindar kekanan ada sajian “Celana ketat plus You Can See”, balik ke belakang dihadang oleh “Dada menantang!” Astaghfirullah… kemana lagi mata ini harus memandang?
Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah! Tapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran “ngeres” dan hatipun menjadi keras.
Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki untuk memakai aset berharga yang mereka punya.
Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih… dan lebih lagi. Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki? Yaitu: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan!
Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda menjawabnya “lelaki”
bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang ini.
inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;”>Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya.
Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau protes ke mana? Apakah saya harus menikmatinya? tapi saya sungguh takut dengan Zat yang memberi mata ini. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan nanti? sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya.
Allah Taala telah berfirman:
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang biasa terlihat. ….” – (QS. An-Nuur : 30-31).
adi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini.
Biarlah mata saya ini rusak
10 dosa besar penghalang rejeki
Dalam sebuah majelis yang digelar dan ustaz Yusuf Mansur menjadi penceramahnya, beliau mengutarakan bahwa ada 10 dosa besar yang bisa menghambat rezeki. Dosa-dosa tersebut bisa dosa kepada Allah dan bisa juga dosa kepada sesama manusia. Bila anda merasa rezeki anda seret, cobalah identifikasi diri anda apakah anda melakukan salah satu atau beberapa dosa besar yang akan kami kutip satu persatu dari ustaz Yusuf Mansur.
Apa saja dosa-dosa besar tersebut hingga dapat menjadi penghambat turunnya rezeki dari Allah? Silakan indetifikasi diri anda apakah anda pernah melakukan dosa besar yang pernah diuraikan oleh ustaz Yusuf Mansur berikut ini :
10 Dosa Besar
1. Syirik (Menyekutukan Allah)
Syirik adalah dosa besar penghalang rezeki, syirik adalah dosa yang tidak diampuni. Apabila ada orang yang meninggal dalam keadaan masih syirik maka ia akan berada dalam neraka selamanya.
2. Meninggalkan Sholat
Sholat adalah wajib, meninggalkan sholat adalah dosa besar. Ada baiknya anda selalu menjaga sholat anda, sebisa mungkin ditunaikan. Sebaiknya ketika panggilan Allah (azan) berkumandang segeralah penuhi panggilannya, jangan ditunda. Nggak mau juga kan rezekinya ditunda oleh Allah.
3. Durhaka Kepada Orang Tua
Surga ditelapak kaki ibu, durhaka kepada kedua orang tua sama saja menjauhkan diri dari surga. Sekaligus menjauhkan dari rezeki yang halal.
4. Zina
Bagaimanapun jangan pernah melakukan zina. Hukuman orang yang berzina sangatlah berat dan juga termasuk dari dosa besar.
5. Rizki Haram
Perolehlah rizki dengan cara yang halal, dengan usaha yang halal. Rizki yang diperoleh secara haram bisa memutus rizki halal karena rizki haram adalah termasuk dosa besar penghalang rezeki halal.
6. Minum Khamr
Minuman keras atau khamr merupakan minuman yang memabukkan. Terdapat banyak hal yang mudharat pada khamr ini. Jauhilah khamr karena Allah.
7. Memutus Silaturahim
Memutus silaturahim merupakan hal yang menghalangi rezeki, sebaliknya menyambung silaturahim adalah hal yang mendatangkan rezeki.
8. Menuduh dan Bersaksi Palsu
Hati hati dengan ucapan anda, mulutmu harimaumu. Terkadang mulut susah untuk dikendalikan, tapi cobalah berkata yang baik atau diam.
9. Kikir dan Pelit
Kikir merupakan dosa penghalang rezeki, jauhilah kikir. Sebaliknya dermawan, suka menolong merupakan sikap yang mendatangkan rezeki.
10. Ghibah
Ghibah atau gosip, membicarakan keburukan orang merupakan dosa besar! Awas, ghibah juga bisa dalam acara televisi. (klikpintar-islampos)
Minggu, 06 September 2015
Jangan Mengucap “SEMOGA BAHAGIA DAN BANYAK ANAK” Rasulullah Melarang Mendoakan Pengantin Seperti Ini....
Hari itu, Uqail bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu menikah. Di tengah kebahagiaannya, ia merasakan kegundahan saat mendengar tamu mendoakannya dengan mengucapkan
بِالرَّفَاءِ وَ الْبَنِيْن
“semoga bahagia dan banyak anak”
Tak mau berlarut-larut dalam kegundahan dan demi meluruskan kekeliruan, Uqail pun mengatakan kepada tamu tersebut: “Janganlah kamu mendoakan demikian karena Rasulullah telah melarangnya.”
“Lalu, aku harus mendoakan bagaimana?”
“Ucapkanlah doa yang diajarkan Rasulullah:
بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَ بَارَكَ عَلَيْكَ وَ جَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ
‘Semoga Allah menganugerahkan barakah kepadamu, semoga Allah juga menganugerahkan barakah atasmu, dan semoga Dia menghimpun kalian berdua dalam kebaikan’”
Mengapa Rasulullah melarang seseorang mendoakan pengantin dengan ucapan “semoga bahagia dan banyak anak”? Wallahu a’lam bish shawab. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui hakikat sejati di balik larangan ini. Namun, kita bisa memetik hikmah sebagaimana dijelaskan Ustadz Muhammad Fauzil Adhim dalam buku Kado Pernikahan untuk Istriku dan ditulis Ustadz Salim A. Fillah dalam buku Bahagianya Merayakan Cinta.
HUKUMNYA MAKRUH
Para ulama menerangkan bahwa hukum mendoakan pengantin dengan ucapan “semoga bahagia dan banyak anak” ini adalah makruh. Larangan tersebut tidak serta merta haram karena dalam hadits yang lain Rasulullah membanggakan banyaknya jumlah umatnya dibanding umat nabi-nabi sebelumnya. Jadi dalam Islam, banyak anak itu bagus. Bahagia dalam pernikahan juga bukan sebuah hal yang dilarang. Namun, mendoakan pengantin dengan ucapan “semoga bahagia dan banyak anak” bukanlah doa yang tepat.
DOA YANG LEBIH BAIK; BARAKAH
Rasulullah melarang mendoakan pengantin “semoga bahagia dan banyak anak” dan beliau menganjurkan umatnya untuk mendoakan dengan ucapan:
بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَ بَارَكَ عَلَيْكَ وَ جَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ
“Semoga Allah menganugerahkan barakah kepadamu, semoga Allah juga menganugerahkan barakah atasmu, dan semoga Dia menghimpun kalian berdua dalam kebaikan”
Hari-hari setelah pernikahan tidak selalu merupakan hari yang bahagia. Orang yang menikah juga belum tentu memiliki banyak anak. Maka membayangkan setelah menikah akan selalu bahagia dan memiliki banyak anak adalah hal yang tak sepenuhnya benar, tak spenuhnya bisa menjadi kenyataan bagi tiap orang.
Sebagaimana fase kehidupan lainnya, hari-hari dalam kehidupan berumah tangga juga diwarnai oleh dua hal: kadang kita menemukan hal-hal yang kita sukai, kadang kita menemukan hal yang tidak kita sukai. Kadang kita mengalami hal-hal yang kita inginkan, kadang kita mengalami hal-hal yang tidak kita inginkan. Kadang kita menjumpai perkara dan peristiwa yang membuat hati kita senang, kadang kita menjumpai perkara dan peristiwa yang membuat hati kita tidak senang. Pada kedua sisi itu, kita berharap ada barakah. Pada kedua sisi itu, kita mendoakan pasangan suami istri selalu mendapatkan barakah. Inilah yang kita tangkap dari doa ini. Dan inilah yang jauh lebih baik daripada “bahagia dan banyak anak.”
Dalam doa yang diajarkan Rasulullah ini, ada kata laka dan ada ‘alaika. Meskipun sama-sama keberkahan yang diminta, tetapi dengan adanya preposisi yang berbeda ini, maknanya menjadi: barakah pada hal-hal yang disenangi dan sekaligus barakah pada hal-hal yang tidak disenangi. Jadi kita mendoakan pengantin muslim senantiasa mendapatkan keberkahan baik dalam kondisi yang mereka senangi maupun tidak mereka senangi. Misalnya saat mereka diluaskan rezekinya oleh Allah, mereka berada dalam keberkahan dengan sikap syukur dan banyaknya infaq. Dan ketika suatu saat mereka berada dalam keterbatasan ekonomi, mereka juga berada dalam keberkahan dengan sikap sabar dan iffah-nya.
Dengan mendoakan barakah, berarti kita merangkum sekian banyak kebaikan dalam satu ikatan. Seperti saat menyuruh seseorang untuk shalat dengan khusyu’, sesungguhnya untuk dapat mencapai perintah itu harus thaharah dulu, berwudhu dulu, memenuhi syarat dan rukun shalat. Demikian pula dengan barakah.
Ada suami istri yang banyak berbahagia di dunia, tetapi di akhirat masuk neraka. Tentu bukan itu yang kita harapkan terjadi pada saudara kita pengantin baru. Pun ada suami istri yang pernikahannya langgeng dan abadi di dunia, tetapi keduanya masuk neraka. Seperti Abu Lahab dan istrinya yang di-nash Allah dalam surat Al Lahab. Tentu pula, bukan seperti ini yang kita harapkan pada saudara kita pengantin baru. Kita mengharapkan mereka memperoleh banyak kebaikan; kendati bahagia dan duka datang silih berganti, dan tak semua pasangan suami istri memiliki anak yang banyak. Dan doa yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam itulah doa yang paling tepat.
Sabtu, 05 September 2015
Ciri Pria Yang Disukai Calon Mertua
Memilih pria yang tepat untuk dijadikan pasangan hidup memang sulit untuk dilakukan. Terkadang pria yang kamu anggap baik untuk kamu, tetapi tidak baik dimata orangtua kamu.
Perbedaan pendapat ini memang menyulitkan kamu untuk menemukan pria yang dihati dan pas di mata orangtua kamu.
Untuk itu, kamu perlu tahu nih, ada lima ciri-ciri pria yang disukai oleh orangtua kamu.
Nah, mau tau seperti apa ? Mari kita simak ulasannya yang berikut ini, seperti dilansir Merdeka.com.
1. Sopan
Pria yang sopan akan menjadi pria idaman bagi para orangtua. Orangtua suka pria yang tahu tata krama dan tahu betul cara memperlakukan orangtua dengan sopan. Pria yang sopan akan dipilihkan oleh orangtua untuk menjadi pasangan hidup anaknya.
2. Rajin beribadah
Pria yang rajin beribadah akan menjadi menantu idaman bagi orangtua. Mereka yang rajin beribada akan dianggap sebagai pasangan yang baik untuk putrinya. Orangtua akan senang jika putrinya berjodoh dengan pria yang religius dan rajin beribadah.
3. Berwawasan luas
Pria yang berwawasan luas akan dapat berkomunikasi dengan baik. Pria yang seperti ini akan menjadi calon menantu kesayangan, sebab saat diajak berbicara pria berwawasan luas ini akan bisa mengimbanginya, sehingga orangtua menyukainya.
4. Bertanggung jawab
Pria yang bertanggung jawab merupakan pria yang akan dipilih orangtua untuk putrinya. Sebab orangtua akan merasa tenang saat putrinya bersama pria yang memiliki tanggungjawab yang tinggi.
5. Bisa mengayomi
Pria yang bisa mengayomi wanita juga menjadi ciri-ciri pria yang disukai oleh orangtua. Sebab, orangtua akan merasa yakin jika putri mereka dengan pria yang bisa mengayomi dan menjadikan putri mereka lebih baik.
Semoga bermanfaat
Produk Pembiayaan Murabahah
Pembiayaan Murabahah
Akad murabahah adalah akad jual beli antara UJKS dan anggota, dimana UJKS membeli barang yang dibutuhkan oleh anggota dan menjualnya kepada anggota sebesar harga pokok ditambah dengan keuntungan yang disepakati.
Manfaat:
1. Membantu anggota untuk memenuhi kebutuhan modal usaha dengan sistem yang mudah,adil dan bermuamalah
2. Anggota bisa sharing risiko dengan UJKS sesuai dengan pendapatan riil usaha anggota.
3. Terbebas dari Riba dan Haram
Ketentuan :
1. Jenis pembiayaan adalah pembiayaan modal usaha komersial mikro dan kecil
2. Peruntukan pembiayaan adalah perorangan atau badan usaha
3. Jangka waktu pembiayaan maksimal 24 bulan
4. Maksimum plafond pembiayaan sampai dengan Rp 50 juta
Persyaratan:
1. Usaha sudah berjalan minimal 1 tahun
2. Menyerahkan laporan perhitungan hasil usaha 3 bulan terakhir
3. Fotokopi KTP pemohon
4. Fotokopi KTP suami/istri/wali
5. Fotokopi Kartu Keluarga
6. Fotokopi Surat Nikah (bila sudah menikah)
7. Fotokopi rekening Tabungan 3 bulan terakhir
8. Fotokopi rekening listrik atau PDAM 3 bulan terakhir
9. Fotokopi Agunan (BPKB mobil/ motor + STNK)
10. Fotokopi legalitas Usaha ; NPWP,TDP dan SIUP (untuk badan usaha)
NB: pembiayaan juga bisa diberikan kepada karyawan swasta baik perorangan maupun kolektif dengan persyaratan sebagai berikut :
1. Bekerja minimal 1 tahun (dibuktikan dengan SK dari perusahaan terkait)
2. Foto Copy KTP yang masih berlaku
3. Foto Copy Kartu Keluarga
4. Foto Copy Surat Nikah (bila sudah menikah)
5. Foto Copy Rekening Tabungan 3 bulan terakhir
6. Foto Copy Agunan (BPKB mobil/motor + STNK)
7. Slip Gaji
Info Lebih Lanjut Hubungi :
Rizki
Telp : 081234562316 / (031) 92300321
PIN BB : 5471D9D4
Inikah Cinta Sejati Atau Hanya Sekedar NAFSU Belaka???
Dalam suatu hubungan percintaan tentunya ada banyak sekali hal yang perlu diperhatikan oleh seseorang dan salah satunya adalah dengan adanya masalah mengani nafsu. Mungkin sudah bukan hal yang aneh lagi jika cinta ini kerap dikait-kaitkan dengan nafsu seseorang kepada lawan jenis.
Hal ini yang kerap sekali dipertanyakan oleh beberapa orang khususnya wanita karena tidak ingin hanya sebagai pelampiasan nafsu saja. Namun ada beberapa cara untuk membedakannya. Berikut ini akan kami sampaikan beberapa cara membedakan antara cinta sejati dan nafsu.
1. Rasa Tergila-gila
Beda pertama mengenai cinta dan nafsu ini adalah dengan adanya rasa tergila-gila. Mungkin kita semua setuju bila jika seseorang sudah merasa mencintai orang lain, maka dia akan merasa tergila-gila pada pasangannya dan hal ini juga merupakan hal yang positif.
Namun caranya untuk membedakan dengan nafsu, jika cinta sejati ini maka rasa tergila-gila kepada pasangannya yaitu sebatas wajar dan hanya menghargai dan mengagumi secara sehat.
Namun jika nafsu, maka seseorang akan selalu teringat pada pasangannya bahkan lupa atau melalaikan semua pekerjaan wajibnya untuk sang pasangan. Hal inilah yang membuat seseorang ini akan mudah bosan dengan pasangannya.
2. Perbedaan Mendasar
Jika kita berbicara mengenai perbedaan cinta dan nafsu ini, maka kita telah mengetahui jawabannya yaitu sudah berbeda jauh antara dua hal ini. Meskipun diawali dengan rasa suka kemudian sayang, namun dalam aplikasinya merupakan hal yang berbeda.
Perbedaannya terletak pada tujuan dan juga caranya. Jika cinta sejati, maka seseorang akan mencintai pasangannya tanpa melihat sebabnya dan akan mencintai secara tulus serta akan sulit untuk luntur. Namun jika nafsu, seseorang akan mencintai pasangannya karena suatu hal entah itu dari harta atau dari keadaan fisiknya dan hal itu akan mudah luntur jika pasangan kita sudah tidak bisa menjadi seperti apa yang kita harapkan.
3. Cinta Membahagiakan, Nafsu Membahayakan
Tidak dapat dipungkiri bahwa cinta dan nafsu adalah dua hal yang bersebrangan namun memiliki arti yang dekat. Dalam hal ini, cinta itu diibaratkan dengan sisi positif dan nafsu adalah sisi negatifnya. Dari sini sudah dapat diketahui bahwa jika cinta ini membawa dampak yang buruk atau merugikan bagi diri kita, maka cinta itu disebut nafsu dan jika membawa kita ke arah yang lebih baik, maka cinta itu adalah cinta sejati.
Mengapa demikian? Karena jika seseorang telah menemukan rasa nyaman dan mengerti arti cinta itu dari pasangannya, maka yang bisa diperoleh adalah kebahagiaan. Sebaliknya jika seseorang menganggap bahwa nafsu yang dimilikinya ini adalah cinta, maka hal ini membahayakan karena bisa menjerumuskan ke tempat atau keadaan yang sangat merugikan.
4. Cinta Memberi, Nafsu Ingin Diberi
Dari pengertian ini tentunya sudah dapat diketahui jika seseorang yang melakukan hubungan dengan orang lain dilandasi dengan cinta, maka orang ini akan senantiasa memberikan apa saja hal yang terbaik untuk pasangannya, untuk menjaga dan menyayangi pasangannya dengan tulus tanpa mengharap kembali.
Namun jika dilandasi dengan nafsu, maka seseorang ini akan merasa selalu ingin diberi oleh pasangannya. Hal inilah yang membuat suatu hubungan ini menjadi tidak sehat dimana seseorang ingin terus diberi sedangkan yang disisi lain selalu memberi.
Cinta Bukan Disalurkan Lewat Pacaran, Renungkanlah...
Cinta kepada lain jenis merupakan hal yang fitrah bagi manusia. Karena sebab cintalah, keberlangsungan hidup manusia bisa terjaga. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan kenikmatan bagi penghuni surga. Islam sebagai agama yang sempurna juga telah mengatur bagaimana menyalurkan fitrah cinta tersebut dalam syariatnya yang rahmatan lil ‘alamin.
Namun, bagaimanakah jika cinta itu disalurkan melalui cara yang tidak syar`i? Fenomena itulah yang melanda hampir sebagian besar anak muda saat ini. Penyaluran cinta ala mereka biasa disebut dengan pacaran. Berikut adalah beberapa tinjauan syari’at Islam mengenai pacaran.
Ajaran Islam Melarang Mendekati Zina
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’ [17] : 32)
Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.
Asy Syaukani dalam Fathul Qodir mengatakan, ”Apabila perantara kepada sesuatu saja dilarang, tentu saja tujuannya juga haram dilihat dari maksud pembicaraan.”
Dilihat dari perkataan Asy Syaukani ini, maka kita dapat simpulkan bahwa setiap jalan (perantara) menuju zina adalah suatu yang terlarang. Ini berarti memandang, berjabat tangan, berduaan dan bentuk perbuatan lain yang dilakukan dengan lawan jenis karena hal itu sebagai perantara kepada zina adalah suatu hal yang terlarang.
Islam Memerintahkan untuk Menundukkan Pandangan
Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menundukkan pandangan ketika melihat lawan jenis. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ
“Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nuur [24] : 30 )
Dalam lanjutan ayat ini, Allah juga berfirman,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (QS. An Nuur [24] : 31)
Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat pertama di atas mengatakan, ”Ayat ini merupakan perintah Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang beriman untuk menundukkan pandangan mereka dari hal-hal yang haram. Janganlah mereka melihat kecuali pada apa yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat (yaitu pada istri dan mahromnya). Hendaklah mereka juga menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram. Jika memang mereka tiba-tiba melihat sesuatu yang haram itu dengan tidak sengaja, maka hendaklah mereka memalingkan pandangannya dengan segera.”
Ketika menafsirkan ayat kedua di atas, Ibnu Katsir juga mengatakan,”Firman Allah (yang artinya) ‘katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka’ yaitu hendaklah mereka menundukkannya dari apa yang Allah haramkan dengan melihat kepada orang lain selain suaminya. Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak boleh seorang wanita melihat laki-laki lain (selain suami atau mahromnya, pen) baik dengan syahwat dan tanpa syahwat. … Sebagian ulama lainnya berpendapat tentang bolehnya melihat laki-laki lain dengan tanpa syahwat.”
Lalu bagaimana jika kita tidak sengaja memandang lawan jenis?
Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.
“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 5770)
Faedah dari menundukkan pandangan, sebagaimana difirmankan Allah dalam surat An Nur ayat 30 (yang artinya) “yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka” yaitu dengan menundukkan pandangan akan lebih membersihkan hati dan lebih menjaga agama orang-orang yang beriman. Inilah yang dikatakan oleh Ibnu Katsir –semoga Allah merahmati beliau- ketika menafsirkan ayat ini. –Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk menundukkan pandangan sehingga hati dan agama kita selalu terjaga kesuciannya-
Allah Memerintahkan kepada Wanita untuk Menutup Auratnya
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59)
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31).
Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan Atho’ bin Abi Robbah bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amr Abdul Mun’im Salim)
Agama Islam Melarang Berduaan dengan Lawan Jenis
Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ
“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.” (HR. Bukhari, no. 5233)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ
“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi)
Jabat Tangan dengan Lawan Jenis Termasuk yang Dilarang
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)
Meninjau Fenomena Pacaran
Setelah pemaparan kami di atas, jika kita meninjau fenomena pacaran saat ini pasti ada perbuatan-perbuatan yang dilarang di atas. Kita dapat melihat bahwa bentuk pacaran bisa mendekati zina. Semula diawali dengan pandangan mata terlebih dahulu. Lalu pandangan itu mengendap di hati.
Kemudian timbul hasrat untuk jalan berdua. Lalu berani berdua-duan di tempat yang sepi. Setelah itu bersentuhan dengan pasangan. Lalu dilanjutkan dengan ciuman. Akhirnya, sebagai pembuktian cinta dibuktikan dengan berzina. –Naudzu billahi min dzalik-. Lalu pintu mana lagi paling lebar dan paling dekat dengan ruang perzinaan melebihi pintu pacaran??
Mungkinkah ada pacaran Islami? Sungguh, pacaran yang dilakukan saat ini bahkan yang dilabeli dengan ’pacaran Islami’ tidak mungkin bisa terhindar dari larangan-larangan di atas. Renungkanlah hal ini!
Mustahil Ada Pacaran Islami
Salah seorang dai terkemuka pernah ditanya, ”Ngomong-ngomong, dulu bapak dengan ibu, maksudnya sebelum nikah, apa sempat berpacaran?”
Dengan diplomatis, si dai menjawab,”Pacaran seperti apa dulu? Kami dulu juga berpacaran, tapi berpacaran secara Islami. Lho, gimana caranya? Kami juga sering berjalan-jalan ke tempat rekreasi, tapi tak pernah ngumpet berduaan. Kami juga gak pernah melakukan yang enggak-enggak, ciuman, pelukan, apalagi –wal ‘iyyadzubillah- berzina.
Nuansa berpikir seperti itu, tampaknya bukan hanya milik si dai. Banyak kalangan kaum muslimin yang masih berpandangan, bahwa pacaran itu sah-sah saja, asalkan tetap menjaga diri masing-masing. Ungkapan itu ibarat kalimat, “Mandi boleh, asal jangan basah.” Ungkapan yang hakikatnya tidak berwujud. Karena berpacaran itu sendiri, dalam makna apapun yang dipahami orang-orang sekarang ini, tidaklah dibenarkan dalam Islam. Kecuali kalau sekedar melakukan nadzar (melihat calon istri sebelum dinikahi, dengan didampingi mahramnya), itu dianggap sebagai pacaran. Atau setidaknya, diistilahkan demikian.
Namun itu sungguh merupakan perancuan istilah. Istilah pacaran sudah kadong dipahami sebagai hubungan lebih intim antara sepasang kekasih, yang diaplikasikan dengan jalan bareng, jalan-jalan, saling berkirim surat, ber SMS ria, dan berbagai hal lain, yang jelas-jelas disisipi oleh banyak hal-hal haram, seperti pandangan haram, bayangan haram, dan banyak hal-hal lain yang bertentangan dengan syariat. Bila kemudian ada istilah pacaran yang Islami, sama halnya dengan memaksakan adanya istilah, meneggak minuman keras yang Islami.
Mungkin, karena minuman keras itu di tenggal di dalam masjid. Atau zina yang Islami, judi yang Islami, dan sejenisnya. Kalaupun ada aktivitas tertentu yang halal, kemudian di labeli nama-nama perbuatan haram tersebut, jelas terlelu dipaksakan, dan sama sekali tidak bermanfaat. (Diambil dari buku Sutra Asmara, Ust Abu Umar Basyir)
Pacaran Mempengaruhi Kecintaan pada Allah
Ibnul Qayyim menjelaskan,
”Kalau orang yang sedang dilanda asmara itu disuruh memilih antara kesukaan pujaannya itu dengan kesukaan Allah, pasti ia akan memilih yang pertama. Ia pun lebih merindukan perjumpaan dengan kekasihnya itu ketimbang pertemuan dengan Allah Yang Maha Kuasa. Lebih dari itu, angan-angannya untuk selalu dekat dengan sang kekasih, lebih dari keinginannya untuk dekat dengan Allah”.
Pacaran Terbaik adalah Setelah Nikah
Islam yang sempurna telah mengatur hubungan dengan lawan jenis. Hubungan ini telah diatur dalam syariat suci yaitu pernikahan. Pernikahan yang benar dalam islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran, tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat. Melalui pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeda dengan pacaran yang cintanya hanya cinta bualan.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ
“Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)
Kalau belum mampu menikah, tahanlah diri dengan berpuasa. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnul Qayyim berkata, ”Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta, malah cinta di antara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan, karena bila keduanya telah merasakan kelezatan dan cita rasa cinta, tidak bisa tidak akan timbul keinginan lain yang belum diperolehnya.”
Cinta sejati akan ditemui dalam pernikahan yang dilandasi oleh rasa cinta pada-Nya.
Mudah-mudahan Allah memudahkan kita semua untuk menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.Allahumma inna nas’aluka ’ilman nafi’a wa rizqon thoyyiban wa ’amalan mutaqobbbalan.
Istri Bukan Pembantu, Apakah Cuci Baju dan Masak Kewajiban Istri?
Apakah istri wajib melakukan pekerjaan rumah? Abdul Majid Mahmud Mathlub dalam kitabnya Al-Wajiz Fi Ahkamil Usroh al-Islamiyah dan Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa sebagian fuqaha berpandangan seorang suami tidak boleh menuntut istrinya secara hukum untuk melakukan pekerjaan rumah. Karena akad nikah yang terlaksana antara mereka berdua hanya bermaksud menghalalkan bergaul antara suami istri untuk menjaga kehormatan diri dan menghasilkan keturunan.
Pekerjaan rumah seperti mencuci dan memasak termasuk dalam ruang lingkup kewajiban yang harus disediakan suami dalam kehidupan rumah tangga. Pandangan ini diwakili oleh mazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan az-Zhahiriyah. Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa istri harus melayani suaminya hanya menunjukkan sifat kerelaan dan keluhuran budi.
Seperti kisah Asma’ binti Abu Bakar yang dinikahi oleh az-Zubair yang miskin tidak memiliki harta dan budak, sehingga Asma' turut mengambil air, memberi makan kuda, membuat roti, bahkan membawa biji-biji kurma di atas kepalanya dari kebun Zubair yang diberi Rasulullah saw.
Imam Nawawi mengomentari kisah ini dalam Syarh an-Nawawi. “Semua ini termasuk kepatutan (apa yang telah dilakukan Asma’ binti Abu Bakar tersebut), bahwa wanita melayani suaminya dengan hal-hal yang telah disebutkan itu (seperti memasak, mencuci pakaian, dan lainnya), semua itu merupakan sumbangan dan kebaikan wanita kepada suaminya, pergaulan yang baik, perbuatan yang makruf, yang tidak wajib sama sekali atasnya, bahkan seandainya ia tidak mau melaksanakannya maka ia tidak berdosa.”
Dalam haditsnya, Rasulullah menjelaskan tentang tanggung jawab kepemimpinan. “Setiap kamu adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Imam itu pemimpin dalam keluarganya, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Laki-laki itu pemimpin, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Khadam itu pemimpin bagi harta majikannya, bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya,” (HR Bukhari).
Abdul Halim Abu Syuqqoh dalam Tahrirul Mar’ah mengomentari kalimat “Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya”. Menurutnya, bukan berarti wanita harus melaksanakan sendiri semua tugas rumah tangganya, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci, menyetrika hingga membersihkan rumah.
Tapi yang dimaksud adalah, semua itu merupakan tanggung jawab (pengawasannya), namun bisa dilaksanakan orang lain seperti pekerja rumah tangga (pembantu), anak-anak, kerabat atau dibantu suaminya sendiri. Maka semua itu bergantung pada kemampuan nafkah dan finansial suami, juga kesempatan dan kemampuan istri untuk melaksanakannya dengan tidak mengabaikan tugas utama yang lainnya, yaitu merawat anak-anak dan mendidiknya dengan baik.
Sementara fuqaha yang lain berpendapat, melayani suami dan melakukan pekerjaan rumah merupakan kewajiban istri. Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Thabrani, Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang perempuan telah mengerjakan shalat fardhu lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.”
Maka seorang istri, ketika diperintahkan suaminya untuk mencuci dan memasak, ia harus menaatinya. Karena melayani suami dengan memasakkan makanan dan mencuci pakaiannya merupakan bagian dari ketaatan pada suami. Nabi saw dan para sahabat Nabi menyuruh istri-istrinya membuatkan roti, memasak, membersihkan tempat tidur, menghidangkan makanan, dan sebagainya. Tidak seorang pun dari mereka yang menolak pekerjaan tersebut.
Terlepas dari dua pandangan yang berbeda tersebut, pada prinsipnya, hubungan suami istri dalam Islam dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang, saling percaya, saling tolong menolong dalam suka dan duka. Seluruh urusan dalam rumah tangga berlandaskan saling ridha dan musyawarah. Masing-masing pihak ikhlas menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya.
Mereka harus saling menasihati, saling membantu untuk menunaikan tanggung jawab kehidupan suami istri serta pemeliharaan anak-anak dan pendidikan mereka dalam setiap situasi dan kondisi. Rumah tangga tidak akan harmonis jika hubungan yang dibangun atas penuntutan hak, bersifat hitam putih, kaku dan saklek.
Semoga Allah memberkahi istri-istri yang menghabiskan hari-harinya untuk mendidik anak dan memelihara rumah tangganya dengan mengharapkan ridha Allah semata. Dan semoga Allah memberkahi suami-suami yang menghabiskan masa hidupnya dalam berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, anak-anaknya, dan tulus membantu istrinya dalam mengerjakan tugas-tugas rumahnya. Semoga Allah meridhai rumah tangga yang dibangun atas azas wata’awanu ‘alal birri wat taqwa, saling menolong dalam perbuatan kebaikan dan ketakwaan. Wallahu a’lam.
Antara Istri dan Ibu Kandung....Mana yang lebih diutamakan?
Assalamu alaikum wr.wb Alhamdulillahi Rabbil alamin. Washshalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Amma ba'du:
Dalam Islam jelas bahwa seorang suami bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Alquran surat an-Nisa ayat 34 dan al-Baqarah 233. Meskipun kondisi isteri mampu, berkecukupan, bahkan kaya, kewajiban untuk memberikan nafkah keluarga tetap menjadi tanggung jawab suami, kecuali kalau isteri ridha dg keadaan yang ada. Namun jika tidak, dan suami tetap tidak mau memberikan nafkah kepada isteri dan anak, maka sang suami berdosa. Rasul saw bersabda, "Cukuplah seseorang mendapat dosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya."
Selanjutnya seorang suami memang dituntut untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak, serta kepada kedua orang tuanya jika mereka berada dalam kondisi membutuhkan dan kekurangan. Kalau suami bisa memenuhi kebutuhan mereka semua, maka wajib baginya untuk memenuhi.
Namun jika penghasilan atau hartanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, maka harus ada prioritas. Yaitu yang harus didahulukan adalah isteri dan anak yang memang berada dalam tanggung jawab utamanya sebagai seorang suami. Hal ini berdasarkan sabda Rasul saw, "Mulailah dari dirimu dengan bersedekah (memberikan nafkah) untuknya. Lalu jika ada yang tersisa maka untuk keluargamu (isteri dan anakmu). Jika masih ada yang tersisa, maka untuk karib kerabatmu (orang tua, saudara dst), dan begitu seterusnya."
Imam an-Nawawi berkata, "Apabila pada seseorang berhimpun orang-orang membutuhkan dari mereka yang harus ia nafkahi, maka bila hartanya cukup untuk menafkahi semuanya, ia harus menafkahi semuanya, baik yang dekat maupun yang jauh. Namun apabila sesudah ia menafkahi dirinya, yang tersisa hanya nafkah untuk satu orang, maka ia wajib mendahulukan isteri daripada karib kerabatnya yang lain...(Raudhah ath-Thalibin).
Melihat pada kasus Anda, hendaknya suami mendahulukan yang menjadi kewajibannya, yaitu menafkahi isteri dan anak. Jika kondisinya benar-benar tidak mampu menafkahi ibunya, maka suami tidak berdosa karena Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Hanya saja, hal ini harus dibicarakan secara baik-baik disertai dg pemberian pemahaman. Kalau ibu masih tetap bersikeras untuk mendapat nafkah suami, sementara Anda sebagai isteri ridha demi untuk menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga, maka Anda mendapatkan pahala yang besar insya Allah. Namun jika tidak ridha, Anda berhak untuk menuntut suami.
Semoga Allah memberikan keberkahan dan jalan keluar terbaik bagi Anda sekeluarga.
Wallahu a'lam.
Wassalamu alaikum wr.wb.
9 Rahasia Mendapatkan Jodoh yang Sholehah
Mendapatkan jodoh yang sholehah adalah keinginan hampir semua laki-laki. Bahkan seorang laki-laki yang sadar dirinya tidak baik pun menginginkan istrinya kelak adalah istri yangs holehah. Mendapatkan jodoh yang sholehah itu nggak mudah. Logikanya, untuk mendapatkan sesuatu yang berharga dan berkualitas tentu sulit kan? Apalagi di zaman modern dan super bebas seperti sekarang.
Namun ada beberapa hal yang bisa kamu terapkan sebagai usaha untuk mendapatkan jodoh sholehah itu. Apa saja? Berikut penjelasannya. Oh iya, walaupun tulisan ini untuk kamu yang laki-laki, kamu cewek-cewek juga dipersilahkan membaca lho ya. Karena secara umum rahasia mendapatkan jodoh yang sholeh juga seperti beberapa hal ini.
1. Niat yang Benar
Dalam Islam, niat itu adalah hal yang paling pertama dinilai. Niat juga akan mempengaruhi setiap perbuatan yang kita lakukan nanti akan dihitung sebagai sebuah kebaikan dan ibadah atau perbuatan yang sia-sia. Sebelum mulai mencari jodoh, pastikan niat kamu untuk menikah sudah benar. Pastikan niat kamu menikah karena Allah dan Rasulnya. Niatkan menikah karena ingin menggapai ridha Allah, mengikuti sunnah Rasul dan menyempurnakan iman kamu.
Jika niat kamu masih sebatas hal-hal sepele dan remeh, sebaiknya niat tersebut diluruskan dulu. Apalagi jika niatnya hanya sebatas ingin merasakan kenikmatan dunia dengan cara halal. Walaupun tidak salah juga, namun niat seperti ini akan mengurangi nilai kesakralan dan keberkahan sebuah pernikahan.
2. Memperbaiki Diri
Ingat rumus umumnya, wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik. Begitu juga sebaliknya. Maka, untuk mendapatkan jodoh yang sholehah dan baik tentu kamu harus baik terlebih dahulu. Coba kamu kira-kira sendiri diri kamu sekarang sudah di level mana, sudah sebaik apa. Evaluasi diri dan cari tahu kekurangan kamu apa aja. Lalu bikin program untuk melakukan perbaikan dari hasil evaluasi tersebut.
3. Kriteria Jangan Muluk
Salah satu ciri laki-laki yang susah jodohnya adalah memiliki kriteria yang terlalu muluk. Para lelaki ini menginginkan seorang wanita yang cantik, manis, putih, tinggi, pendidikan minimal S1, anak orang kaya dan berbagai kriteria yang lain. Sebenarnya tidak salah juga asal kamunya bisa mengimbangi dengan ketampanan, kekayaan dan pendidikan yang sama. Yang jadi masalah adalah ketika kamu biasa saja namun ingin istri yang luar biasa. Oleh karena itu, jangan terlalu muluk dalam memilih jodoh. Carilah jodoh yang sekufu atau sepantaran. Baik dalam kondisi fisik, finansial, sosial dan kriteria lainnya.
4. Terus Berdoa
Jika doa kamu untuk mendapatkan jodoh yang sholehah belum dikabulkan Allah, jangan putus asa. Teruslah berdoa hingga suatu saat Allah akan mengabulkannya. Setiap doa pasti akan dikabulkan oleh Allah. Jika saat ini doa kamu belum juga terkabul, ada beberapa kemungkinan. Pertama, Allah sedang menunda mengabulkannya, bukan tidak mengabulkan. Kedua, Allah mengganti dengan yang lebih baik. Ketiga, ada yang salah dengan doa kamu.
Jadi, teruslah berdoa dan yakini Allah akan mengabulkan doa tersebut atau mengganti permintaan kamu dengan yang lebih baik. Kemudian, coba evaluasi mana tau ada yang salah dengan doa kamu baik tata cara maupun isinya.
5. Perbanyak Ibadah Sunnah
Poin ini sebenarnya nyambung dengan poin kedua tadi. Memperbanyak ibadah sunnah adalah salah satu bentuk perbaikan diri. Jika kamu selama ini jarang shalat dhuha, mulai sekarang rutinkan shalat dhuha. Jika selama ini tidak pernah tahajjud, mulai nanti malam rutinkan tahajjud. Jangan lupa selalu shalat berjamaah di masjid. Perbanyak juga membaca Alquran, bersedekah, puasa sunnah, shalat sunnah rawatib dan lain sebagainya. Mudah-mudahan kamu juga akan mendapatkan istri yang juga sedang memperbaiki diri dengan ibadah-ibadah sunnah tersebut
6. Memperluas Jaringan
Memperluas jaringan di sini maksudnya memperluas pergaulan. Gabung di komunitas-komunitas baru. Cari forum-forum baru yang kamu belum tau sebelumnya. Jika kamu masih kuliah, gabung dengan berbagai organisasi yang ada di kampus kamu. Dengan begitu, kamu mengenal banyak orang baru. Nah, dari sana mudah-mudahan ada salah satu yang bisa menjadi calon istri
kamu. Atau, salah satu dari teman baru kamu bisa memperkenalkan kamu ke satu atau beberapa wanita sholehah. Jadi, hal yang harus kamu pastikan adalah setiap komunitas yang akan kamu dekati adalah komunitas yang baik.
7. Nyatakan Isi Hati
Iya, nyatakan isi hati kamu ke doi. Tapi nyatakan dengan cara yang elegan. Jangan lakukan dengan cara rendahan seperti “maukah kau menjadi pacarku?” kayak orang mau jadian pacaran. Cara yang elegan itu seperti apa? Ta’aruf! Cari seorang wanita yang menurut kamu sesuai dengan kriteria kamu. Ajak dia untuk saling tukar CV. Atur pertemuan untuk saling tanya jawab dengan didampingi satu atau beberapa orang. Jika cocok, segera lanjut ke pernikahan. Simpel kan?
8. Minta Bantuan Orang Lain
Kalau kamu merasa sudah siap menikah, segera lakukan. Untuk bisa menemukan jodoh yang sholehah, kadang kita memang membutuhkan orang lain. Apalagi jika kamu memang tipe pendiam dan kurang bergaul. Orang pertama yang bisa kamu mintai tolong tentu orang tua kamu. Bisa juga ke kakak, saudara, teman atau kenalan kamu.
9. Tawakkal dan Pasrah
Setelah berbagai usaha tersebut sudah kamu lakukan. Kini saatkan untuk bertawakkal dan berpasrah diri kepada apapun keputusan Allah. Tapi ingat ya, tawakkal itu ada di akhir usaha. Bukan di awal atau di tengah usaha. Jadi jangan bilang kamu tawakkal jika usaha kamu masih sedikit atau belum maksimal. Di tahap ini, kamu juga harus terus memperbaiki diri dan memperbanyak doa.
Stop Menggunakan Kata ”SUNNAH RASUL” Dimalam Jum'at, Baca Nih Akibatnya.....
Sudah menjadi kebiasaan kalau hari kamis malam (atau malam Jumat), banyak tersebar kicauan atau status di social media yang isinya berkisar pada perkataan “Sunnah Rasul”. Begitu juga dalam pergaulan sehari-hari di dunia nyata, istilah tersebut juga sering terdengar. Menurut mereka, istilah “Sunnah Rasul” yang populer di malam Jum’at adalah penghalusan dari hubungan suami istri atau ML. Coba lihat sejenak hasil penelusuran super singkat ini, bagaimana ribuan kicauan serasa berlomba-lomba menyebut istilah “Sunnah Rasul”.
Bagi mereka yang muslim dalam mengucapkan istilah itu bisa jadi karena ingin menutupi sesuatu yang dianggap vulgar / tabu baginya bila disampaikan dalam ruang publik. Tapi akibatnya fatal, karena telah menyempitkan arti dari sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an menjadi hanya sebuah aktifitas seks belaka.
Sedangkan bagi mereka yang berhati fasiq dijangkiti penyakit islamophobia dalam mengucapkan istilah itu bisa jadi hanya ingin mengolok-olok, karena baginya ajaran Islam identik dengan urusan sex atau selangkangan. Sehingga tidak segan-segan menuduh dan melecehkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang katanya doyan kimpoi dan pedofilia. (Insya Allah, soal ini nanti akan saya bahas)
Dari mana asalnya muncul istilah “Sunnah Rasul” yang di-identikkan dengan aktivitas ML?
Semuanya berawal dari hadits ini:
Barangsiapa melakukan hubungan suami istri di malam Jumat (kamis malam) maka pahalanya sama dengan membunuh 100 Yahudi.”
Dalam hadits yang lain ada disebutkan sama dengan membunuh 1000, ada juga yang menyebut 7000 Yahudi.
Sebenarnya bagaimana derajat hadits tersebut, apakah shahih, dhaif atau palsu?
Hadits di atas tidak akan ditemukan dalam kitab manapun, baik kumpulan hadits dhaif apalagi shahih. Kalimat tersebut tidak mempunyai sanad / bersambung ke sahabat, apalagi ke Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang akhirnya pada satu kesimpulan bahwa hadits “Sunnah Rasul” di atas adalah sama sekali bukan hadits, itu hadits PALSU yang telah dikarang oleh orang iseng, orang tidak jelas, dan tidak bertanggung-jawab yang mengatasnamakan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bahkan kita tidak akan menemukan satu-pun hadits Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berhubungan suami istri pada malam-malam tertentu, termasuk malam Jum’at.
Kemudian lanjutan penelusuran singkat malam ini di “timeline pencarian”, pandangan mata saya tertarik pada sebuah kicauan yang berbunyi:
Kalau menikah itu harus,,kenapa namanya harus sunnah rasul,,bukannya fardu ain,,,kenapa??
Pertanyaan ini mungkin mewakili ke-awam-an dalam masyarakat kita. Hukum pernikahan dalam Islam itu bisa Wajib, bisa Sunnah, bahkan bisa Haram, bisa Makruh, atau bisa Mubah; yang semuanya itu tergantung kondisi / latar belakang dalam pernikahan tersebut. Sedangkan dalam soal berhubungan badan (jima’), yang SALAH adalah pasangan suami istri tersebut meng-khusus-kan malam Juma’t untuk berhubungan badan dengan niat untuk mengamalkan hadits Palsu di atas dan “bersemangat membunuhi ribuan Yahudi” seperti dalam postingan yang menyesatkan di sini: [Kompasiana] Saatnya Membunuh Yahudi Malam Ini. Bagi yang punya akun Kompasiana, silakan menasehati pemilik jurnal tersebut.
Kalau mau berhubungan badan dengan pasangan sah-mu, jangan mengkhusus-kan hari-hari, kemudian lebih baik itu diniatkan sebagai ibadah sehingga diawali dan diakhiri dengan do’a. Berhubungan badan dengan pasangan sah adalah merupakan ibadah seperti sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam:
Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” [HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah].
Di Indonesia sangat subur akan hadits-hadits palsu dan dhaif (lemah) yang beredar dan bermaksud untuk menyesatkan dan membo
Allah Sudah Mengatur Semuanya
Rezeki memang sudah ada yang mengaturnya, yaitu Allah… bahkan seluruh kehidupan kita, baik itu rezeki, jodoh, hidup dan mati kita, semenjak ruh ditiupkan pada usia 4 bulan di dalam kandungan sampai kita mati, juga sudah diatur oleh Allah di dalam Lauful Mahfudz. Tapi semuanya itu tidak ujug-ujug turun, ada asbabnya. Mau dapet rezeki banyak, ya harus ikhtiar lebih keras, bukan tidur di rumah tanpa ada upaya. Kalau kita beranggapan bahwa rezeki sudah diatur, lantas kita tidak berbuat apa-apa, itu salah.
Itu seperti kaum Jabariyyah yang mengatakan bahwa Allah yang berkehendak penuh terhadap takdir manusia, manusia tidak memiliki kehendak sama sekali. Seperti boneka yang digerakkan tuannya. zina nya manusia bukan karena manusia mau berzina, tapi karena Allah yang mau kita berzina, bermaksiatnya manusia bukan karena manusia mau bermaksiat, tapi karena Allah yang berkehendak manusia untuk bermaksiat. Ini salah…
Ada lagi lawannya, yaitu paham Qadariah, mereka mengatakan bahwa manusia memiliki kehendak penuh terhadap takdir dan kehidupan manusia, sedangkan Allah hanya bertugas menciptakan manusia saja. Allah itu ibarat tukang jam, dan manusia itu jam nya, manusia berjalan sendiri dalam takdirnya tanpa ada campur tangan Allah di dalamnya. Suksesnya manusia karena usahanya, bukan karena Allah. Miskin dan kayanya manusia juga karena manusia sendiri dengan usahanya, bukan karena Allah. Begitu katanya… ini juga salah…
Dalam Ahlu Sunnah, Allah menciptakan takdir untuk manusia, tapi manusia memiliki kehendak dan ikhtiar untuk memilih takdirnya. Sebab itu kita diperintahkan belajar supaya kita mengetahui apa yang tidak kita ketahui, kita diperintahkan mencari rizki yang halalan thayyiban supaya kita dapat memenuhi kebutuhan kita, serta tidak meninggalkan keluarga dan keturunan dalam kemiskinan.
Bedakan antara pasrah dan tawakkal. Pasrah dekat dengan putus asa terhadap takdir, tidak melakukan apa-apa untuk mengubahnya. Tawakkal itu diawali dengan ikhtiar yang totalitas untuk menjemput takdir, lalu memberikan keputusannya kepada Allah terhadap hasilnya.
Ikhtiar juga bukan sembarang ikhtiar, lakukan ikhtiar yang baik. Ikhtiar yang tidak melanggar syari’atnya, yang dapat mendatangkan keridhaan dari Allah Subhanallahu Wa Ta’ala. Bukan ikhtiar yang malah menjerumuskan kita dalam kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah Subhanallahu Wa Ta’ala. Misalnya, ingin kaya, kemudian datang ke dukun supaya dilancarkan rezekinya, lah ini juga salah… kalau tuh dukun bisa lancarin rezeki orang, mendingan dia lancarin rezeki dia sendiri dan jadi orang terkaya di dunia kan?
Lakuin hal-hal yang dapat mendatangkan rahmat dan keridhaan Allah terhadap ikhtiar kita, sehingga akan totalitas yang akan kita dapatkan. Misal ketika diberikan rezeki oleh Allah Rp 10.000 dari total kebutuhan Rp 1.000.000, jangan marah sama Allah, syukuri… kemudian instropeksi, mungkin ada yang salah ketika kita berikhtiar, mungkin kita tidak melibatkan Allah dalam ikhtiar-ikhtiar kita… Setelah dapat hasil instropeksinya, lalu eksekusi dengan ikhtiar yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
wallahu a’lam…
Rajin Sholat tapi Masuk Neraka,ini penyebabnya
Pada saat hari perhitungan amal kelak pada hari kiamat kelak, hal yang pertama kali akan dihisab adalah shalat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah yang satu ini. Di dalam Alquran, perintah yang paling sering Allah katakan adalah perintah tentang shalat. Ada banyak ayat yang memerintahkan kita untuk selalu mendirikan shalat.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya pertama kali yang dihisab (ditanya dan diminta pertanggungjawaban) dari segenap amalan seorang hamba di hari kiamat kelak adalah shalatnya. Bila shalatnya baik maka beruntunglah ia dan bilamana shalatnya rusak, sungguh kerugian menimpanya.” [HR. Tirmidzi]
Untuk itu, sangat penting bagi kita untuk selalu mendirikan shalat. Namun, dizaman yang sudah modern seperti sekarang ini tampaknya banyak orang yang sudah mulai memandang remeh shalat. Bahkan hanya karena suatu alasan yang sepele saja, seseorang dapat dengan mudah meninggalkan shalat.
Bahkan saat ini banyak orang yang menganggap bahwa shalat itu hanya sebagai rutinitas ibadah semata. Ada juga seseorang yang melaksanakan shalat karena terpaksa dan lain sebagainya. Hal-hal seperti inilah penyebab seseorang yang rajin shalat tetapi masuk neraka, karena dalam melaksanakan ibadah tersebut mereka tidak secara ikhlas melakukannya.
Dan berikut ini ada beberapa golongan orang yang rajin shalat tetapi masuk neraka.
1. Shalat tetapi Suka Berdusta
Berdusta merupakan salah satu dosa besar dan diancam siksa yang pedih di akhirat kelak. Dizaman seperti ini, kebohongan tampaknya sudah menjadi suatu kebiasaan di kalangan masyarakat. Padahal, sekecil apapun sebuah kebohongan akan tetap dianggap sebagai dosa besar.
Meskipun ada seseorang yang rajin shalat dan beribadah, namun apabila lisannya suka berbohong maka shalat dan ibadahnya akan sia-sia semata. Karena kebohongannya itu akan menghapus amal-amalnya. Dan apabila ia mati dalam keadaan tidak bertaubat kepada Allah, maka dia akan dimasukkan kedalam neraka.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” [QS. An-Nahl ayat 105]
Berbohong menunjukkan salah satu ciri dari golongan orang-orang yang munafik. Untuk itulah mengapa kita sebagai umat Islam harus menjauhi yang namanya perbuatan dusta, karena itu dapat menyengsarakan kita baik di dunia dan di akhirat.
2. Shalat tetapi Minum Minuman Keras
Hal ini sering kita jumpai dikalangan masyarakat, banyak sekali orang yang melakukan shalat tetapi suka meminum minuman keras. Inilah akibatnya apabila menganggap shalat hanya sebagai sebuah rutinitas semata, sehingga dalam melaksanakannya tidak dibarengi dengan hati yang ikhlas.
Minuman keras adalah segala jenis minuman yang memabukkan. Dan minuman semacam ini sangat dilarang oleh agama Islam. Kebanyakan, orang yang shalat belum tentu bisa terhindar dari minuman keras (khamr).
Rasulullah sendiri mengatakan bahwa setiap minuman keras itu adalah induk dari segala macam kejahatan, bahkan Rasulullah juga melarang setiap muslim untuk mendekati khamr, apalagi meminumnya. Baik sedikit atau banyak, khamr adalah barang haram yang tidak boleh diminum oleh orang yang beragama Islam.
Rasulullah juga melaknat orang-orang yang berhubungan dengan minuman keras (khamr), untuk itu sebagai umat Islam wajib hukumnya untuk menghindari khamr dan menjauhinya. Dan segeralah bertaubat apabila pernah meminumnya, karena meskipun shalatnya rajin, tapi apabila suka meminum khamr maka neraka akan menjadi tempat kembalinya.
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa minum khamr, pasti Allah memberi minum kepadanya dari air panas neraka Jahannam” [HR. Al Bazzar]
3. Shalat tetapi Percaya Dukun
Orang yang shalat tetapi ia percaya dengan dukun atau tukang ramal adalah salah satu orang yang dapat dikatakan shalat tetapi ia masuk neraka. Seperti kita ketahui, dukun adalah orang yang mengaku bahwa dirinya mengetahui perkara-perkara ghaib dan tersembunyi.
Dalam hadits
Inilah yang Terjadi Jika Tidak Berdoa Saat Gauli Istri
Setelah menikah, hubungan ‘ranjang’ suami dan istri adalah kebutuhan yang kudu dipenuhi. Saking agungnya ibadah khusus itu, Islam telah mengaturnya dengan sangat baik. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam banyak riwayatnya. Di antara yang paling penting, adalah sunnah membaca doa sebelum menggauli pasangan hidup kita.
Lantas, sepenting apakah doa sebelum berjima’ ini? Apa yang terjadi jika pasangan suami-istri tidak membaca sebelum menjalankan ibadah penuh kenikmatan itu?
“Apabila salah seorang dari kamu hendak menggauli istrinya membaca,” demikian sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari ‘Abdullah bin ‘Abbas secara Muttafaq ‘Alaih, “’Bismillahi, allahumma jannibnasy-syaithana wa jannibnasy-syaithana ma razaqtanaa (Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah dari setan apa-apa yang Kau rezekikan kepada kami)’, tentu jika direzekikan kepada keduanya anak, pastilah setan tidak akan bisa membahayakannya untuk selama-lamanya.”
Menafsirkan hadits ini, Imam Ibnul Jauzi berkata, “Setan tidak akan bisa membahayakan (anak tersebut) dengan kekafiran, dan dosa-dosa besar.” Selain itu, doa ini juga memiliki makna, “Doa ini juga bisa menjadi taufik agar si anak kelak bertaubat jika melakukan perbuatan dosa di dalam hidupnya.”
Doa ketika hendak berjima’ itulah, menurut Atha’ merupakan salah satu tafsir dari surat al-Baqarah [2] ayat 223. Allah Ta’ala berfirman, “Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu.” Kata Atha’, “Dia membaca basmalah sebelum menggauli istrinya.”
Lantas, apa yang terjadi jika lalai dan sengaja tidak membaca basmalah (doa tersebut di atas) ketika hendak berhubungan dengan istri? Imam Mujahid menjelaskan, “Jika seseorang tidak membaca basmalah saat hendak menggauli istrinya, maka jin akan bersembunyi di ujung kemaluan, lalu ikut bersetubuh.”
“Dan itulah,” lanjut Imam Mujahid, “(salah satu makna yang terkandung dalam) firman Allah Ta’ala, ‘Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.’” (Qs. ar-Rahman [55]: 56)
Kepada para pengantin baru, atau pengantin lama, jangan terburu-buru ya. Sebab ianya aktivitas ibadah berlimpah pahala, jangan lupa untuk memulai dengan menyebut nama Allah Ta’ala. Agar berlimpah pahala dan berkah, serta dijauhkan dari setan. Aamiin. [Pirman/Keluargacinta]
Rujukan: Agar Tidak Diperdaya Setan, Ibnu Muflih al-Maqdisi, Darul Uswah, Yogyakarta
Mengapa Islam Melarang Untuk Pacaran?
Berpacaran, berpelukan dan bersentuhan dengan lawan jenis sebelum menikah melahirkan gerakan otak, kemaluan dan nafsu!
Dua tahun lalu, tepatnya tahun 2012, peneliti University of St. Andrews di Inggris mengungkapkan sebuah hasil penelitian bahwa ketika fisik perempuan tersentuh oleh pria, suhu kulit tubuh perempuan akan meningkat, khususnya di bagian wajah dan dada.
Riset berjudul “The Touch of a Man Makes Women Hot” dan dipublikasikan di LiveScience, 29 Mei 2012 itu menunjukkan, sentuhan dari pria terbukti mampu membakar gairah seks wanita.
“Perempuan menunjukkan peningkatan suhu ketika mereka terlibat dalam kontak sosial dengan laki-laki,” ungkap salah satu peneliti dari University of St. Andrews, Amanda Hahn.
Hasil riset menemukan, wajah biasanya akan memanas ketika kita sedang mengalami tekanan (stres), takut, atau marah. Emosi lain juga memengaruhi perubahan suhu tubuh.
Peneliti, melakukan eksperimen terhadap sejumlah laki-laki dan perempuan di Inggris. Mereka dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diberi rangsangan dengan memperlihatkan foto perempuan heteroseksual, sambil diberi sentuhan pada beberapa bagian tubuh seperti lengan, telapak tangan, wajah, dan dada, dengan menggunakan sinar probe. Sedangkan pada kelompok lain, responden mendapat sentuhan nyata dari pasangan (sebagai experimenter) pada bagian tubuh yang sama.
Ketika merasakan sentuhan tersebut, perempuan akan mengalami peningkatan suhu kulit sampai 10 derajat Celcius. Efeknya dianggap tidak cukup besar, karena bagian tubuh yang disentuh hanya lengan atau telapak tangan (bagian dada dan wajah paling banyak mengalami perubahan). Lonjakan suhu menjadi tiga kali lebih besar ketika experimenter-nya pria.
Namun ketika pria menyentuh bagian dada dan wajah wanita, suhu tubuhnya meningkat lebih panas 0,3 derajat Celsius. Perubahan suhu terbesar terjadi pada wajah.
Namun, tim peneliti tidak dapat mengatakan apakah perubahan tersebut dapat ditangkap dengan jelas oleh mata telanjang, atau apakah hal itu dapat terdeteksi dengan sentuhan.
Bagi pasangan lelaki dan perempuan yang sedang pacaran atau bertunangan, inilah alasan dan sebab mengapa Anda tak perlu bersentuhan dengan bukan mahram.
Islam melarang berpacaran, berpelukan dan bersentuhan dengan lawan jenis sebelum menikah karena sentuhan melahirkan gerakan otak, kemaluan dan nafsu. Ini sesuai dengan pesan agama Islam dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ
“Sekali-kali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1862 dan Muslim no. 3259).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, :
مَا تَر
bila sakit kepala
SUNNAH RASULULLAH
Jika sakit kepala di depan kepala, pengobatannya adalah tidur.
Jika sakitnya di atas kepala, pengobatannya adalah makan dan minum.
Jika sakit kepala di bagian belakang kepala Anda, maka pengobatannya adalah melepaskan stres.
Pengobatan meningkatkan kekuatan penglihatan mata Anda. Hal ini sangat penting untuk orang-orang yang mata mereka lemah dan juga untuk semua orang.
Otot mata yang lemah, akan menyebabkan ketidakmampuan dalam melihat secara akurat.
Untuk memulihkan mata dan menjaga kekuatan ototnya, maka sebaiknya mengikuti sunnah selama sholat.
Kita harus selalu membuka mata kita selama sujuud, dan ketika berdiri pandangan mata melihat tempat sujuud. Jaga mata Anda tetap fokus pada satu titik tempat sujuud.
Hikmah di balik pandangan mata tetap fokus pada satu titik tempat sujuud adalah:
Saat rukuu', otot mata akan menekan lensa mata untuk meningkatkan visi dan saat Anda bangun mata otot mata akan melonggarkan.
Sementara saat sujuud, lensa mata akan menyusut karena jarak antara mata dengan tempat sujud memendek, dan ketika Anda bangun lagi itu akan mengendurkan otot-otot mata.
Bila kita praktikkan setiap hari, maka akan melatih otot-otot mata kita, sehingga mata kita akan sehat.
Kita dapat melakukan hal ini setiap 17 kali atau sebanyak yang kita inginkan.
Nabi kita (SAW) selalu memerintahkan untuk membuka mata kita, selama sujuud. Dan sekarang para ilmuwan telah membuktikan bahwa praktek ini bekerja dalam meningkatkan kekuatan penglihatan mata.
Subhanallah......
Silahkan dibagi dan jangan berhenti dari mendapatkan pahala Allah.....
(Sumber : WE LOVE PROPHET MUHAMMAD)
Jumat, 04 September 2015
Islam menyembah ka'bah...ini penjelasannya
UMAT MUSLIM MENYEMBAH KA'BAH
Pertanyaan:
Ketika Islam melarang pemujaan terhadap berhala mengapa umat Muslim memuja dan menunduk
di hadapan Kabah dalam ibadahnya?
Jawaban:
Ka'bah adalah Kiblat atau arah dimana umat Muslim menghadapkan wajahnya dalam sholat.
Sangat penting untuk dicatat bahwa meskipun umat Muslim menghadapkan wajahnya ke Kabah
ketika sholat, mereka tidak memuja atau menyembah Kabah. Umat Muslim memuja dan
menyembah hanya kepada Allah, hal tersebut termaktub dalam Surah Al-Baqarah:
"Kami melihat mukamu menengadah ke langit, maka Kami akan memalingkan kamu ke
arah Kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke Masjidil Haram: dimana saja
kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya."
[Al-Qur'an 2:144]
19
1) Islam percaya pada pengembangan kesatuan
Misalnya, jika umat Muslim akan melakukan sholat, bisa saja beberapa ingin menghadapkan
wajahnya ke utara, sementara sebagian yang lain ingin menghadapkan wajahnya ke selatan. Agar
semua umat bersatu, umat Muslim dalam sembahyangnya terhadap Tuhan yang maha Esa,
diperintahkan untuk menghadapkan wajahnya ke satu arah, yaitu menghadap Kabah. Jika umat
Muslim tinggal di sebelah barat Kabah, maka ke timurlah wajahnya menghadap. Jika mereka
tinggal di sebelah timur Kabah, maka ke baratlah wajah mereka menghadap ketika sholat.
2) Kabah terletak di Pusat Peta Dunia
Umat Muslim adalah orang-orang pertama yang menggambar peta dunia. Mereka menggambar
peta dengan meletakan selatan di atas dan utara di bawah. Kabah terletak di tengah-tengah.
Kemudian pembuat peta dari Barat menggambar peta dengan meletakan utara di atas sementara
selatan di bawah. Meski demikian, Ka'bah tetap terletak di tengah-tengah atau pusat dari peta
dunia.
3) Tawaf mengelilingi Kabah mengindikasikan satu Tuhan
Ketika umat Muslim datang ke Masjidil Haram di Mekkah, mereka melakukan tawaf
mengelilingi Kabah. Hal ini menyimbolkan keimanan dan penyembahan pada satu Tuhan
sebagaimana setiap lingkaran memiliki satu titik pusat, maka hanya ada Allah SWT, satu-satunya
Tuhan yang disembah.
4) Hadist Umar
Terkait dengan batu hitam Hajar Aswad, ada sebuah hadist yang dihubungkan kepada sahabat
Nabi SAW, Umar. Menurut Sahih Bukhari, Volume 2, tentang Haji, bab 56, H.No. 675. Umar
berkata, "Aku tahu bahwa kau adalah sebuah batu yang tidak bisa memberi kebaikan atau
kerugian. Tidak pernah aku melihat Nabi SAW menyentuh (dan mencium) mu, maka aku tidak
akan pernah menyentuh (dan mencium) mu."
5) Orang-orang berdiri di atas Ka'bah dan mengumandangkan Adzan
Pada zaman Nabi, orang-orang bahkan berdiri di atas Kabah dan mengumandangkan Adzan, atau
seruan untuk Sholat. Seseorang boleh bertanya pada mereka yang menyatakan tanpa bukti bahwa
umat Muslim menyembah Kabah: penyembah berhala yang mana yang berdiri di atas berhala
sesembahannya?
Tentang POLIGAMI
POLIGAMI
Pertanyaan:
Mengapa seorang pria diperbolehkan untuk memiliki lebih dari satu istri dalam Islam? Mengapa
poligami diperbolehkan dalam Islam?
Jawaban:
Definisi Poligami
Poligami merupakan suatu sistem perkawinan dimana seseorang memiliki lebih dari satu
pasangan. Poligami dapat dibagi menjadi dua kategori. Salah satunya adalah poligini di mana
seorang pria menikah lebih dari satu wanita, dan yang lainnya adalah poliandri, dimana seorang
wanita menikah dengan lebih dari satu orang pria. Dalam Islam, poligami diperbolehkan dalam
batasan tertentu, sedangkan poliandri benar-benar diharamkan . Kembali pada pertanyaan semula,
mengapa seorang pria diperbolehkan untuk memiliki lebih dari satu istri?
Qur'an mengizinkan poligami dalam batasan tertentu.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa Qur'an adalah satu-satunya kitab agama di muka
bumi ini yang menyatakan " menikah hanya dengan satu pasangan '. Konteks kalimat tersebut
adalah dipetik dari ayat Al Quran Surat An Nisa ayat 3:
"Menikahlah dengan perempuan pilihan Anda, dua, atau tiga, atau empat, tetapi jika kamu takut
kamu tidak akan mampu menghadapi adil (dengan mereka), maka (menikahlah) hanya satu. "
[QS.04:03]
Sebelum Al Qur'an diturunkan, tidak ada batasan atas poligini dan banyak orang yang memiliki
puluhan istri, beberapa bahkan ratusan. Islam menempatkan batas atas adalah empat istri. Islam
memberikan izin orang untuk menikah dua, tiga atau empat wanita, hanya dengan syarat bahwa
seorang suami dapat berlaku adil dengan para istri istrinya. Dipertegas kembali pada ayat 129
surat yang sama mengatakan bahwa:
"Kamu tidak pernah bisa adil di antara perempuan ...." [QS. 4:129]
Oleh karena itu poligami bukan aturan tapi pengecualian. Banyak orang yang salah paham bahwa
itu adalah wajib bagi seorang Muslim untuk memiliki lebih dari satu istri. Secara umum, Islam
memiliki lima kategori dari hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, yaitu:
a. 'Fardu' yang berarti wajib/harus dilaksanakan
b. 'Mustahab/Sunnah' yaitu dianjurkan/didorong untuk dilaksanakan
c. 'Mubah' yakni diperbolehkan atau diizinkan
d. 'Makruh' yaitu tidak dianjurkan atau lebih baik ditinggalkan
e. 'Haram' yaitu dilarang atau harus ditinggalkan/dihindari
Poligini merupakan kategori yang berada di tengah, yaitu hal-hal yang diperbolehkan. Hal ini
tidak bisa dikatakan bahwa seorang Muslim yang memiliki istri dua, tiga atau empat adalah
seorang Muslim lebih baik sebagai dibandingkan dengan seorang Muslim yang hanya memiliki
satu istri.
Rata-rata rentang kehidupan wanita lebih lama daripada pria
Secara alami, pria dan wanita lahir di sekitar rasio yang sama. Seorang anak perempuan memiliki
kekebalan lebih dari seorang anak laki-laki. Seorang anak perempuan dapat melawan kuman dan
penyakit lebih baik daripada anak laki-laki. Untuk alasan ini, selama usia anak-anak sendiri
terdapat lebih banyak kematian pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Selama
perang, terdapat lebih banyak pria yang tewas dibandingkan dengan wanita. Pria lebih banyak
meninggal karena kecelakaan dan penyakit dibandingkan wanita. Rentang hidup rata-rata wanita
lebih lama daripada pria, dan pada waktu yang sama ditemukan bahwa lebih banyak wanita yang
menjadi janda daripada lelaki yang menjadi duda.
Populasi penduduk wanita di dunia lebih banyak daripada penduduk pria
Di Amerika Serikat, jumlah wanita 7,8 juta lebih banyak dari jumlah pria. New York saja
memiliki 1 juta wanita lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pria, dan penduduk pria New
York sepertiganya adalah gay atau penyuka sesame jenis. Amerika Serikat secara keseluruhan
memiliki lebih dari 25 juta gay. Gay berarti bahwa para pria tersebut tidak ingin menikahi wanita.
Penduduk wanita di Inggris 4 juta lebih banyak dibandingkan dengan penduduk pria. Jerman
memiliki 5 juta lebih banyak wanita dibandingkan dengan pria. Rusia memiliki wanita yang
jumlahnya 9 juta lebih banyak dari penduduk pria. Hanya Allah yang tahu tepatnya berapa juta
lebih wanita yang hidup di seluruh dunia dibandingkan dengan pria.
Membatasi setiap orang untuk hanya memiliki satu istri bukan cara yang praktis
Bahkan jika setiap satu orang pria menikah dengan seorang wanita, masih akan ada lebih dari tiga
puluh juta wanita di Amerika Serikat yang tidak bisa mendapatkan suami (mengingat bahwa dua
puluh lima juta penduduk Amerika adalah gay). Akan ada lebih dari 4 juta wanita di Inggris, 5
juta wanita di Jerman dan sembilan juta wanita di Rusia sendiri yang tidak akan dapat
mendapatkan suami.
Kebanyakan wanita tidak ingin berbagi suami dengan wanita lain. Tapi dalam Islam ketika wanita
Muslim memandang situasi ini benar-benar diperlukan dalam iman, mereka bisa menanggung
kerugian pribadi yang relatif lebih kecil untuk untuk mencegah kerugian yang lebih besar bagi
saudara Muslim lainnya.
Al Qur'an adalah satu-satunya Kitab Suci bagi umat agama Islam di dunia yang
mengatakan, "Menikahlah dengan hanya satu pasangan".
Seperti yang disebutkan sebelumnya, Al Qur'an adalah satu-satunya kitab suci di muka bumi ini,
yang dalam ayatnya menyuratkan kalimat 'menikahlah dengan hanya satu pasangan'. Tidak ada
kitab agama lain yang memerintahkan pria untuk hanya menikahi satu istri. Tulisan suci agama
lain pun tidak ada yang mengisyaratkan hal tersebut, apakah itu Veda, Ramayana, Mahabharata,
Geeta, Talmud atau Alkitab tidak ada yang menyatakan mengenai pembatasan jumlah istri.
Menurut salah satu tulisan suci tersebut hanya disebutkan untuk bisa menikah dengan satu
keinginan. Hanya berupa himbauan di kemudian hari, bahwa pemuka umat Hindu dan Pihak
Gereja Kristen yang membatasi jumlah istri hanya satu. Banyak tokoh agama Hindu, sesuai
dengan Kitab Suci mereka, memiliki banyak istri. Dashrat raja, ayah dari Rama, memiliki lebih
dari satu istri. Kresna memiliki beberapa istri. Pada jaman dulu, umat Kristen diizinkan untuk
memiliki istri sebanyak yang mereka inginkan, karena Alkitab mereka tidak membatasi jumlah
istri yang dapat dinikahi. Sampai pada akhirnya beberapa abad yang lalu dewan Gereja Kristen
membatasi jumlah istri hanya satu orang. Poligini juga diijinkan dalam Yudaisme. Menurut Kitab
Talmud, Abraham mempunyai tiga istri, dan Raja Salomom bahkan memiliki ratusan istri.
Praktek poligini terus berlangsung sampai masa Rabbi Gershom bin Yehudah (960 CE untuk
1030 M) mengeluarkan perintah yang melarang hal tersebut. The Sephardic, komunitas Yahudi
yang tinggal di negara-negara Muslim,
terus melakukan praktek Poligini hingga akhir tahun 1950, sampai suatu Undang- undang
Pemimpin Pendeta Yahudi Israel diperbaharui mengenai larangan menikahi lebih dari satu istri.
Jawaban DR Zakir Naik mengenai takdir
jawaban DR Zakir Naik mengenai takdir
dalam sebuah forum tanya jawab, seorang perempuan bertanya pada DR Zakir Naik:
"aku terus mendengar bahwa segala sesuatu adlh kehendak Allah. Apapun yg terjadi adlh kehendak Allah. Apapun yg telah terjadi sudah dituliskan. Jadi di manakah kebebasan untuk memilih? Ketika Allah memberitahuku kebebasan untuk memilih, apapun yg kulakukan dikatakan bahwa ini sudah tertulis dan merupakan kehendak Allah. Bahkan untuk Adam dan Hawa, hal yg sama terjadi. Dan dapatkan anda menjelaskan jika segala sesuatu telah dituliskan, maka di manakah kebebasan ku untuk memilih?"
DR Zakir Naik menjawab:
"Saudari mengajukan pertanyaan yg sangat bagus, pertanyaan yg sangat penting bahwa jika segala sesuatu merupakan kehendak Allah maka di manakah kebebasan untuk memilih? Pertanyaan ini tidak hanya ditanyakan oleh non-Muslim bahkan hal ini juga ditanyakan oleh Muslim. Hal ini berkenaan dengan Qadar. Hal ini sudah dijelaskan dalam takdir. Misalnya aku ingin mencuri, dan jika aku melakukannya, siapa yg salah? Allah yg salah. Jika sudah dituliskan dalam takdirku bahwa aku akan membunuh, kemudian aku melakukannya, siapa yg salah? Allah yg salah. Jadi di manakah kehendak bebas kita? Jadi jika ini merupakan kehendak Allah dan sudah dituliskan dalam takdir, maka di manakah kehendak bebasnya?
Jawaban atas pertanyaan ini adalah:
Merupakan kewajiban bagi setiap Muslim untuk beriman pada Qadar. Tapi anda harus mengerti apa makna dari takdir. Misalnya: jika dalam sebuah kelas, ada seratus murid. Dan ketika sang guru mengajar di kelas itu. di akhir tahun, sebelum ujiannya dimulai, sang guru memprediksikan bahwa murid yg ini akan lulus dengan peringkat pertama. Sedangkan murid yg ini akan lulus dengan peringkat menengah. Murid yg ini akan gagal. Guru itu memprediksi. Kenapa? Karena dia tahu bahwa murid yg ini sangat tekun, selalu mengerjakan PR, ikut les. Kalau murid yg biasa-biasa ini akan mendapatkan peringkat menengah. Murid yg itu, dia sering menonton bioskop, tidak mengerjakan PR, sering bolos. Sang guru sudah memprediksi bahwa murid itu akan gagal. Dan ketika ujiannya dilaksanakan, setelah hasilnya keluar, murid yg ini dapat peringkat pertama, murid yg ini dapat peringkat menengah, dan murid yg itu gagal.
Saya bertanya pada anda:
Bisakah murid yg telah gagal itu menyalahkan gurunya, “karena anda telah memprediksi bahwa aku akan gagal, maka aku jadi gagal.”
Siapa yg salah? Murid itu atau gurunya?
Murid itu yg salah.
Guru itu memprediksi.
Siapa yg salah? Murid itu. dia tidak belajar, tidak mengerjakan PR, sering menonton bioskop. Begitu juga Allah SWT telah memberikan kehendak bebas kepada manusia. Allah telah memberitahumu apa yg benar dan salah, tapi pilihannya ada di tangan mu.
Sebagai contoh: jika anda berhenti di persimpangan jalan. Ada 4 jalan – A, B, C, dan D. Anda bisa memilih yg manapun. (misalkan) Anda memilih jalan C. Jadi Allah telah mengetahui sebelunya bahwa ketika anda berhenti di persimpangan jalan, anda akan memilih jalan C. Jadi Allah pun menulis “ketika si fulan berhenti di persimpangan jalan, dia akan memilih jalan C.”
Jadi bukan karena Allah menuliskan dan anda memilih hal itu, melainkan karena anda akan memilihnya maka Allah pun sudah menuliskannya.
Allah punya ilmu ghaib, Dia punya pengetahuan tentang masa depan. Dia telah menuliskannya lebih dulu. Setelah anda memilih jalan C, anda berhenti di persimpangan jalan lainnya. Sebagaimana setelah anda lulus kuliah, anda bisa menjadi engineer, anda bisa menjadi dokter, anda bisa menjadi pebisnis. anda memilih jadi pebisnis. Pilihannya ada di tanganmu. Tapi Allah sudah mengetahui bahwa setelah anda lulus kuliah, maka anda akan memilih jadi pebisnis. Hal ini bukan karena Allah menuliskannya sehingga anda menjadi pebisnis, melainkan karena anda ingin menjadi pebisnis, Allah pun sudah menuliskannya.
Dan apa yg kita mengerti dari sini, bahwa jika Allah mau, Dia sebenarnya bisa mengubahnya. Misalnya, jika kau berada dalam sebuah kelas, dalam ujian matematika. Sang guru memberikan pertanyaan “2+2= ?” dan seiring dia mengawasi para muridnya, murid-muridnya menulis 2+2=5. Sang guru tidak akan mengoreksinya (membetulkannya), karena ini adlh ujian. Karena jika sang guru mengoreksinya, maka anda akan berkata bahwa sang guru tidak adil. Misal sang guru berkata “jangan menulis 5, tulislah 4”, maka murid-murid lainnya akan protes “kenapa anda ikut campur saat sedang ujian?”
Jadi jika Allah mau, Dia bisa saja mengubahnya. Tapi karena Dia telah memberikan mu kehendak bebas, Dia membiarkan mu memilih keputusan mu.
Jadi kehidupan ini adlh ujian untuk akhirat. Seperti yg Allah firmankan dalam surat Al-Mulk 67: 2
“Allah menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yg lebih baik amalnya.”
Jadi kehidupan ini adlh ujian untuk akhirat. Allah memberikan mu dan menunjukkan aturannya pada mu, apa yg baik dan apa yg buruk. Kemudian Dia memberikanmu kehendak bebas. Ini merupakan pilihanmu. Allah tidak ikut campur dalam kehendak bebasmu, meskipun Dia bisa jika Dia mau. Qur’an berfirman: “bahkan tidak sehelai daun pun bisa jatuh kecuali atas seizin Allah.”
Jadi apapun yg terjadi, hal itu karena kehendak Allah, tapi pilihannya ada di tangan mu. Dan berdasarkan hal itu, anda akan diberi pahala atau dihukum.
Semoga itu menjawab pertanyaannya.”
Hati hati dengan Marah
Jika kita MARAH selama 5 menit saja, maka sistem imunitas (kekebalan) tubuh kita akan depresi selama 6 jam
Dan jika kita DENDAM, menyimpan kepahitan, maka imunitas tubuh kita akan mudah mati. Lalu dari situlah bermula segala awal penyakit, STRESS, kolesterol tinggi, Jantung, Rheumatik, arthritis, Sroke / pendarahan / penyumbatan pembuluh darah
Kemudian jika kita sering membiarkan pikiran kita STRESS, maka kita pun akan sering mengalami GANGGUAN PENCERNAAN
Perasaan KHAWATIR berlebihan pun bisa mengakibatkan kita NYERI PUNGGUNG
Jika mudah TERSINGGUNG, maka kita akan cenderung terkena penyakin INSOMNIA (susah tidur)
Jika sering mengalami KEBINGUNGAN, maka besar kemungkinan mudah terkena GANGGUAN TULANG BELAKANG BAGIAN BAWAH
Jika sering membiarkan diri kita merasa TAKUT BERLEBIHAN, maka kita akan mudah terkena sakit ginjal
Jika suka suudzon, NEGATIVE THINKING, maka kita akan mudah terkena DYSPEPSIA (penyakit sulit mencerna)
Jika mudah EMOSI dan cenderung PEMARAH, maka kita bisa rentang terhadap penyakit HEPATITIS.
Jika kita sering APATIS (tidak pernah perduli) terhadap lingkungan, maka kita berpotensi mengalami PENURUNAN KEKEBALAN TUBUH
Jika sering TERLALU MENGANGGAP SEPELE semua persoalan, maka hal ini bisa mengakibatkan penyakit DIABETES
Jika kita sering KESEPIAN, maka kita bisa terkena penyakit DEMENSIA SENELIS (memori dan kontrol fungsi tubuh berkurang)
Jika sering bersedih dan merasa terlalu RENDAH DIRI, maka kita bisa terkena penyakit Leukimia (Kanker Darah Putih)
Mari kita bersyukur atas segala perkara yang telah terjadi, karena dengan bersyukur, maka hati ini menjadi GEMBIRA dan menimbulkan energi POSITIF dalam tubuh kita untuk mengusir segala penyakit-penyakit tersebut diatas
QS.3 Ali 'Imran:119 ,,,Katakanlah: "Matilah kamu karena kemarahanmu itu"...
Orang marah cepat tua
12 Kata "jangan menunggu"
1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu akan bahagia.
2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah,tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.
3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.
4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli,tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan.
5. Jangan menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia, tapii pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu.
6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis, tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.
7. Jangan menunggu proyek baru bekerja,tapi bekerjalah,maka proyek akan menunggumu.
8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai,tapi belajarlah mencintai, maka kamu akan dicintai.
9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah bukan sekadar uang yang datang tapi juga rejeki yang lainnya.
10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.
11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur, tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.
12. Jangan menunggu bisa baru melakukan,tapi lakukanlah! Maka kamu pasti bisa!
Semoga Kita Dapat Menjalankannya...
Aamiin ya Rabbal'alamin..
Tantangan Untuk Orang yang Tidak Berpacaran
Jika ada yang bilang 'tak laku-laku' karena tak memiliki pacar.. Mka jawablah : "Lebih baik aku dibilang tak laku-laku, daripada hanya laku sekedar dijadikan pacar."
Jika ada yang bilang tak punya 'nostalgia dan kebanggaan' karena tak memiliki pacar.. Maka jawablah : "Lebih baik aku dibilang tak punya kebanggaan, kalau hanya sekedar kebanggaan banyaknya koleksi mantan pacar."
Jika ada yang bilang 'rugi lho' kalau tak punya pacar.. Maka jawablah : "Lebih baik aku menjaga kesucian diri dari pada hanya sekedar mencari kesenangan dan kepuasan diri."
Jika ada yang bilang nanti bisa 'menyesal' lho kalau tak berpacaran.. Maka jawablah : "Lebih baik aku memikirkan cita- cita daripada hanya memikirkan hubungan cinta yang terlarang."
Hukum Meninggalkan Sholat Jumat 3x
Shalat jum’at adalah sebuah kewajiban bagi ummat Islam, khususnya laki-laki dewasa. Kewajiban ini dituangkan di dalam firman Allah;
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.( Al-Jumu’ah: 9)
Adapun kewajiban itu bagi kaum muslim laki-laki berdasarkan kepada hadis nabi; Dari Thariq bin Syihab ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4 orang. [1] Budak, [2] Wanita, [3] Anak kecil dan [4] Orang sakit.” (HR Abu Daud)
Dalil-dalil tersebut menunjukkan kewajiban melakukan shalat jum’at bagi lelaki muslim. Jika kewajiban itu ditinggalkan, maka ia mendapatkan dosa besar.
Kalimat Ummat Nabi Muhammad memiliki dua makna, ummat da’wah dan ummat istajabah. Ummat da’wah adalah semua orang yang hidup setelah beliau diutus sebagai Nabi dan Rasul. Sedangkan umat Istijabah adalah manusia yang hidup setelah kerasulan beliau dan memutuskan untuk menerima dakwah baliau. Pengeluaran seseorang dari ummat nabi Muhammad memiliki makna penetapan kekufuran seseorang.
Benarkah orang yang meninggalkan shalat Jum’at ia keluar dari agama islam, alias murtad? Mari kita tinjau hadis-hadis yang menerangkan bahayanya meninggalkan shalat jum’at, apalagi sampai tiga kali berturut-turut adalah
Barangsiapa meninggalkan shalat jum’at tiga kali tanpa udzur dan tanpa sebab (yang syar’i) maka Allah akan mengunci mata hatinya (HR Malik)
Barangsiapa meninggalkan shalat jum’at tiga kali karena meremehkannya maka Allah akan mengunci mata hatinya (HR at-Tirmidzi)
Ibnu Abbas mengatakan :
Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at tiga kali berturut-turut maka ia telah melemparkan ikatan Islam ke belakang punggungnya (HR Abu Ya’la dari kata-kata Ibnu Abbas)
Dengan memperhatikan hadis-hadis tentang meninggalkan shalat jum’at, kita temukan bahwa tidak ada nash yang jelas yang menunjukkan batalnya keimanan seseorang. Memang Ibnu Abbas mengatakan telah melemparkan tali Islam ke belakangnya, maksud dari kata ini bukanlah melepaskan agama Islam, tetapi melepaskan sebagian kewajiban di dalam Islam.
Terlebih bahwa ucapan itu bukan berasal dari Rasulullah saw sehingga tidak bisa digunakan untuk memastikan batalnya keislaman seseorang.
Dari sini, maka orang yang tidak menjalankan shalat jum’at tiga kali tidak dinyatakan sebagai orang kafir, apalagi kalau ia masih mau shalat yang lain.
Wallahu a’lam bish-shawab
6 Golongan Wanita yang Kurang Layak Dijadikan Istri
1). Al -Anaanah
Banyak keluh kesah. Yang selalu merasa tak cukup, apa yg diberi semua tak cukup. diberi rumah tak cukup, diberi motor tak cukup, diberi mobil tak cukup, dll. Selalu ingin memenuhi kehendak nafsu sendiri, tanpa memperhatikan perasaan suami, tak hormat kepada suami apalagi berterima kasih pada suami. apa yg suami
beri pun tak pernah puas. Ada saja yang tak cukup.
2). Al-Manaanah
Suka mengungkit. Kalau suami melakukan hal yg dia tak berkenan maka diungkitlah segala hal tentang suaminya itu. sangat senang membicarakan suami: tak ingat budi, tak bertanggung jawab, tak sayang, dll. Padahal suami sudah memberi perlindungan macam-macam padanya.
3). Al -Hunaana
Ingin pada suami yg lain atau berkenan kepada lelaki yg lain. sangat suka membanding-bandingkan suaminya dengan suami/lelaki lain. Tak ridha dengan suami yang ada. (Naudzubillah)
4). Al- Hudaaqah
Suka memaksa. Bila ingin sesuatu maka dipaksa suaminya melakukan. Pagi, petang malam asyik menekan dan memaksa suami. Adakalanya dengan berbagai ancaman: ingin lari, ingin bunuh diri, ingin membuat malu suami, dll. Suami dibuat seperti budaknya, bukan sebagai pemimpinnya. Yang dipentingkan adalah kehendak dan kepentingan dia saja.
5). Al-Hulaaqa
Sibuk bersolek atau tidur atau santai-santai dll hingga lalai dengan ibadah-ibadah asas, seperti shalat berjamaah, wirid zikir, mengurus rumah-tangga, berkasih sayang dengan anak-anak, dll.
6). As-Salaaqah
Banyak berbicara, menggosip. Siang malam, pagi petang asik menggosip terus. Apa saja yg suami kerjakan selalu tidak benar dimatanya. Zaman sekarang bergosip bukan saja berbicara di depan suami, tapi dengan telfon, SMS, internet (facebook), BBM dan macam-macam cara yang lain.
Kesimpulan:
Isteri lebih asyik menyusahkan suami dengan kata-katanya yang menyakitkan, istri lebih asik dengan dirinya sendiri. Demikianlah yang harus kita perhatikan dari 6 golongan wanita yang kurang layak dijadikan Istri.
Langganan:
Postingan (Atom)